SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban– Terhimpitnya sumber mata air Murkudu di tengah tambang galian C, mendorong Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Kodim 0811, dan Perhutani KPH Tuban, Jawa Timur untuk menyelamatkannya. Tepat di momen Hari Pers Nasional (HPN) 2017, ketiga unsur tersebut mengajak semua warga, akademisi, hingga pecinta alam untuk melestarikan lingkungan sekitar sumber.
“Sumber Murkudu yang terletak di petak 11 A RPH Gaji ini sudah ada sebelum jaman penjajahan Jepang dan harus dilestarikan,†ujar Ketua PWI Tuban, Pipit Wibawanto, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui dalam acara tanam pohon di RPH Gaji, BKPH Kerek Desa Mliwang, Kecamatan Tambakboyo, Jumat (10/2/2017) kemarin.
Pipit mengungkapkan, keberadaan sumber mata air di tengah hutan Mliwang ini menjadi penopang kebutuhan masyarakat sekitar. Meskipun memasuki musim kemarau, tak sekalipun airnya surut.
Asisten Perhutani (Asper)Â BKPH Kerek, Suprianto, membenarkan bahwa sumber Murkudu memiliki debit air terbesar diantara mata air lainnya. Akan tetapi cadangan air mulai berkurang dengan adanya penambang galian C pabrik semen di sekitarnya.
“Petak 11 A ini diapit tiga industri tambang semen milik BUMN, Swiss, maupun China,†imbuhya.
Selama ini dia mati-matian mempertahankan mata air tertua di wilayahya. Awalnya petak 11 A sudah masuk plan penambangan semen. Berbagai upaya dilakukannya dan akhirnya membuahkan hasil. Titik yang memiliki luas 25 hektar berhasil diselamatkan, dan kini akan dioptimalkan penghijaunnya.
Dalam acara tanam pohon kali ini, tidak kurang dari 1.500 bibit pohon ditanam di sekitar sumber. Diantaranya pohon Jati, Mahoni, Trembesi, Sukun, Nangka, dan Kesambi. Alasan kenapa lebih banyak pohon berbuah, supaya dapat dimanfaatkan warga sekitar.
“Setelah ditanami kami juga berharap ada kepedulian warga sekitar untuk menjaga pohon di petak A 11,†jelasnya.
Kasdim 0811 Tuban, Mayor Inf Suko Edi, juga menegaskan apabila ada pembalak kayu akan langsung ditindak. Prinsip di hutan jika tidak menanam, jangan pula harus menebang.
“Alasannya apa yang kita tanam hari ini akan di panen cucu kita kelak,†tandasnya.
Perlu diketahui, di BKPH Kerek masih kerap terjadi pembalakan kayu di hutan. Hal ini merupakan multi player effect dari industri tambang. Dimana banyak lahan warga yang dijual, dan kini hanya hutan yang menjadi harapan hidup. (aim)