SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Rencana pemerintah menyerap gabah petani melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) secara maksimal dengan harga Rp3.700 per Kilogram (Kg) dianggap bohong oleh petani di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pasalnya, hingga saat ini harga gabah masih pada patokan tengkulak. Bahkan harga gabah terus mengalami penurunan.
Padahal harga semula yang ditetapkan langsung oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia (Mentan RI), Amran Sulaiman, saat menghadiri langsung panen raya padi di Desa Pulo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Selasa (24/1/2017) lalu sebesar Rp3.700 per Kg. Namun penetapan tersebut tidak ada efeknya. Karena harga sekarang malah semakin anjlok tinggal Rp2.800 per Kg.
“Penetapan harga gabah langsung dari Pak Mentan Sulaiman itu tidak ada efeknya. Malah sekarang ini harga gabah semakin anjlok tinggal Rp.2.800,†kata Kasmijan (70), salah satu petani Cepu saat berada di lahan miliknya yang tengah panen, kepada suarabanyuurip.com, Senin (20/2/2017).
Murahnya harga gabah petani, kata Kasmijan, para tengkulak beralasan karena kadar airnya masih tinggi. “Alasan itu saya nilai hanya permainan saja agar petani tidak bisa menjual dengan harga mahal,†ucapnya.
Menurutnya, terus menurunnya harga gabah tahun ini seakan ada permainan dan kongkalikong antar tengkulak supaya harga gabah semakin rendah. Dengan rendahnya harga, menurut dia, petani serasa dicekik. Karena tak sebanding dengan biaya tanam yang dikeluarkan dengan penghasilan yang didapat.
“Ongkos untuk panen saja sudah tinggi, belum lagi untuk obat-obatan pertanian. Jadi kalau harga gabah seperti ini jelas kami merugi,†akunya.
Dia menganggap, bahwa apa yang direncanakan pemerintah melalui Mentan Sulaiman beberapa waktu itu adalah bohong. Karena semula merencanakan bakal mengambil gabah petani secara maksimal melalui Bulog dengan harga yang telah ditentukan tidak sesuai dengan realita yang ada.
“Sampai sekarang tidak ada. Itu bohong kalau mau diserap,†gerutunnya.
Sementara, Kepala Perum Bulog Sub Divre 2 wilayah Pati, Ahmad Kholison, mengaku, sebenarnya dalam musim panen pertama 2017 ini Perum Bulog Sub Divre 2 Pati telah menerjunkan satuan kerja (Satker) pengadaan untuk melakukan penyerapan gabah dan beras petani. Mitra Kerja Pengadaan (MKP) juga telah menandatangani kontrak pemasukan beras ke gudang Bulog.
“Untuk harganya sendiri dan kuwalitas gabahnya tetap mengacu pada instruksi Presiden nomor 5 tahun 2015, dan Permentan nomor 21 tahun 2016,†ujarnya. (ams)