SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Tak kurang dari enam bulan setelah sumur tua di lapangan Gegunung, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ditertibkan Selasa (9/8/2016) silam, Kerja Sama Operasional (KSO) Tawun Gegunung Energy (TGE) baru dapat mengirim minyak 10 ribu liter atau 62,89 Barel Per Hari (Bph) ke Pertamina. Pengiriman emas hitam tersebut dilakukan sebanyak dua kali, dengan melibatkan pihak ketiga sebagai penyedia jasa angkut minyak.
“Alhamdulillah kita sudah bisa mengirim minyak ke Pertamina selaku tangan kanan Pemerintah,” ujar Field Manager KSO TGE, Ervino, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (28/2/2017).
Minyak mentah tersebut berhasil dieksploitasi dari sumur 18 di Lapangan Gegunung. Sedangkan untuk sumur lain yang dikelolanya masih dilakukan perawatan ataupun reaktivasi.
Dengan telaten dan sabar, timnya sedikit demi sedikit mengumpulkan minyak sejak bulan Desember 2016. Baru pada bulan Februari 2017 minyak dapat ditransfer ke Pertamina, dengan setiap pengiriman 5.000 liter atau 31,44 Bph.
Sulitnya mengelola sumur tua Gegunung diakui Vino, sebab tepat di setiap mulut sumur banyak sumbatan besi, batu ataupun kayu pasca eksploitasi yang dilakukan warga setempat. Hal ini tentu perlu dipahami pula, bahwa biaya yang dikeluarkan TGE tidak sedikit.
Kondisi di Lapangan Gegunung, lain halnya dengan di Lapangan Tawun, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan yang kini sedang dihentikan sementara eksploitasinya. Pasca ambrolnya jembatan sepanjang 12 meter, KSO terus memutar otak bagaimana solusi mengatasi problem tersebut.
“Ada penambahan biaya untuk menuju ke lokasi,” imbuh pria ramah ini mengungkapkan.
Penyebabnya setiap kali pekerja ke lokasi menggunakan kendaraan roda empat, tentu harus memutar sejauh 50 Km dari Kecamatan Tambakboyo. Akses biasanya dari Kecamatan Bangilan hanya dapat dilalui roda dua, itupun mengandung resiko besar ketika melintasi jembatan.
Beruntung aktivitas di Lapangan Migas Tawun dengan istirahat, hanya ada 10 pegawai meliputi 6 satpam dan 4 crew yang melakukan perawatan dan pengamatan. Hal yang terus dipikirkannya ketika ada pengiriman alat berat ke lokasi, karena Pemda Tuban berjanji baru membongkar total dan membangunnya kembali pada tahun 2018.
“Dukungan dan doa restu dari warga sekitar sangat penting, supaya TGE dapat meningkatkan produksi Migasnya untuk kesejahteraan lingkungan sekitar,” harap Vino.
Perlu diketahui, di lapangan Gegunung di bumi Mulyoagung terdapat 22 sumur tua peninggalan kolonial. Sebanyak 12 sumur diantaranya dikelola PT TGE. Selebihnya 10 sumur dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perusahaan Daerah Aneka Tambang (PDAT) milik Pemda Tuban, yang kini juga proses persiapan produksi. (Aim)