SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Untuk memperluas jaringan penanganan bencana di 20 kecamatan, Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, bekerjasama dengan Komando Pasukan Katak (Kopaska) Angkatan Laut (AL) Surabaya, Jawa Timur, melatih 100 relawan tanggap darurat yang dipusatkan di Pantai Kelapa (PK) Panyuran Kecamatan Palang, selama dua hari.
Peserta pelatihan berasal dari Organisasi Pemerintahan Daerah (OPD), komunitas masyarakat, pecinta alam, perusahaan, dan 25 Desa Tangguh Bencana (Destana).
Selama pelatihan berlangsung, Kopaska langsung membekali peserta dengan teknis khusus penyelamatan korban di air. Mulai cara menyelam, water rescue, vertical rescue yang disesuaikan dengan kondisi geografis di Bumi Wali (sebutan lain Tuban).
Kepala BPBD Tuban, Joko Ludiono, menjelaskan alasan mengutamakan teknik di air. Karena secara geografis, Tuban memiliki laut sepanjang 65 Kilometer (Km) dari Kecamatan Palang hingga Bancar. Ditambah Sungai Bengawan Solo dengan panjang 25 Km tanpa tanggul. Sekaligus deretan pegunungan kapur utara yang berpotensi banjir bandang, tanah longsor, dan puting beliung.
“Dari tiga faktor inilah peningkatan kapasitas SDM Tuban sangat dibutuhkan,” imbuh Joko.
Setelah berkoordinasi dengan warga asli Tuban yang dinas di Kopaska AL, ternyata mereka senang dan sukarela membagikan ilmunya . Simbiosis mutualisme inilah yang bakal meningkatkan kesadaran dan SDM relawan.
“Utamanya kemampuan mengetahui resiko bencana, dan cara menanggulanginya,†tegas Joko.
Selama ini banyak kejadian bencana di air, yang mengakibatkan korban sampai meninggal. Hal ini karena warga yang pertama kali mengetahuinya tidak memiliki kemampuan menolong di air.
“Semoga waktu dua jam yang dibutuhkan dari pusat kota ke luar Tuban dalam penanganan bencana dapat dipotong,” jelasnya.
Pasca pelatihan ini, BPBD bakal melibatkan masyarakat baik dalam perencanaan pengurangan resiko bencana maupun peningkatan SDM. Diharapkan tidak ada korban jiwa lagi, ketika bencana datang.
Lebih dari itu, BPBD berupaya memberikan kesempatan dan peluang bahwa penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan pemerintah. Masyarakat dan dunia usaha juga memiliki peluang, karena pengurangan resiko bencana menjadi tanggung jawab bersama.
“Pekan depan BPBD juga bakal melatih relawan yang tergabung Destana di Mangrove Center Tuban (MCT) Kecamatan Jenu,” tandasnya.
Terpisah, seorang peserta dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Unirow Tuban, Slamet Sugianto, bersyukur dapat menimba ilmu dari Kopaska AL. Pengetahuan dan praktik langsung penyelamatan di air ini, sangat penting untuk menolong masyarakat yang tenggelam.
“Semoga lain kali dapat berpartisipasi untuk meningkatkan kspasitas personal dan organisasi pecinta alam di Tuban,” pungkas pria kelahiran Kecamatan Bancar.(aim)