SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Masyarakat perlu mengetahui lebih dini Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sekarang memiliki potensi bencana baru yakni gempa bumi. Meskipun dampaknya kecil dan tidak menimbulkan Tsunami, tapi bencana ini timbul setelah aktifnya sesar Rembang di sepanjang perairan utara Jawa Timur.
“Tidak usah panik dengan adanya potensi gempa,†ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiono, kepada suarabanyuurip.com, melalui pesan singkatnya, Jumat (22/9/2017).
Catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi terakhir di Kabupaten Tuban terjadi pada hari Kamis (21/9). Itu pun dampak dari gempa berkekuatan 5,2 SR yang mengguncang utara Pulau Madura.
Sekalipun ada catatan getaran magnitudo sampai di Tuban, tapi tidak ada masyarakat yang merasakannya. Diharapkan masyarakat tetap tenang, dan tidak terprovokasi dengan berita yang membuat panik.
Sebagai wilayah penting dalam bisnis hulu dan hilir Migas, pada tanggal 23 Juli 2017 lalu Tuban juga diguncang gempa tektonik dua kali. Fenomena ini dampak dari Lindu bermagnitudo 4,2 disusul bermagnitudo 3,2 selang 15 menit kemudian, yang mengguncang daerah Paciran, Kabupaten Lamongan.
“Update terbaru Tuban memang masuk peta rawan gempa,†jelas Joko.
Hasil kajian BMKG 2017, ada tambahan 160 titik gempa di seluruh wilayah Indonesia. Khusus di Kabupaten Tuban, gempa dipengaruhi sesar Kendeng yang berada di pegunungan kapur utara. Sedangkan sesar Rembang berada di sepanjang perairan Jatim.
“Semoga Tuban aman dan dilindungi oleh yang maha kuasa,†harap mantan Camat Grabagan ini.
Bupati Tuban, Fathul Huda, menjelaskan, bahwa 80% bencana yang melanda wilayahnya dikategorikan bersifat Hidrometeorologi. Penghitungan tersebut berdasarkan pantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2013-2015 yang mana bencana hidrometeorologis akibat dari air dan cuaca.
“Kondisi ini karena Tuban terletak di tepi Sungai Bengawan Solo,” tambahnya.
Saat ini Tuban berada di urutan 145 dari 496 kabupaten/kota se-Indonesia yang memiliki resiko bencana tinggi. Dimana nilai indeks resiko bencana di Kabupaten Tuban sejak tahun 2013 mencapai skor 175. Angka tersebut menjadikan Tuban masuk sebagai kelas resiko bencana tinggi.
Beberapa potensi ancaman yang kerap melanda Tuban, baik yang bersifat alam ataupun non alam meliputi, banjir, kekeringan, tanah longsor, cuaca dan gelombang ekstrem.
Adanya potensi gempa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban berharap tidak berdampak langsung pada industri Migas. Diantara industri hulu Migas yang terus beroperasi yakni produksi Lapangan Mudi di Kecamatan Soko, Lapangan Tapen di Kecamatan Senori, dan Sumur Tua peninggalan Belanda di Kecamatan Singgahan, Bangilan dan Senori.
Untuk bisnis hilir Migas, meliputi kilang PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI), Terminal BBM Tuban, dan sebentar lagi berdiri Kilang NGRR Tuban patungan Pertamina- Rosneft Oil Campany. Sedangkan 23 Km ke Utara dari bibir pantau Kecamatan Palang mengapung dua kapal tangker Floating Storage and Offloding (FSO) Gagak Rimang menampung minyak dari Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, dan FSO Cinta Natomas menampung minyak dari Lapangan Mudi, dan Sukowati.(Aim)