Pertamina EP Kenalkan Migas di SMAN 1 Kenduruan

NULL

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Dipenghujung program Sekolah Jurnalistik di SMAN 1 Kenduruan, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 4 Field Cepu menyempatkan mengenalkan pengetahuan Minyak dan Gas Bumi (Migas) kepada pelajar. Edukasi tersebut disampaikan, karena Kenduruan menjadi wilayah operasi Lapangan Migas Albrotus Putih (ABP-1).

“Peserta didik di Kenduruan harus tau kalau di wilayahnya punya potensi Migas,” ujar perwakilan Humas Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, M. Aris, kepada suarabanyuurip.com, Kamis (23/11/2017).

Selama 10 menit, pria ramah ini berdialog dengan siswa dua arah. Melalui pemutaran video di layar proyektor, peserta sekolah jurnalistik yang bersinergi dengan Ronggolawe Press Solidarity (RPS) Tuban antusias mengetahui Migas lebih jauh.

Video pertama yang dilihat siswa yakni kegiatan eksplorasi di salah satu sumur Migas Pertamina EP. Para siswa melihat detail, proses mencari minyak mulai pemasangan pipa sampai penyemenannya.

Di sela-sela pemutaran video ada siswa yang bertanya, bagaimana Pertamina tahu ada minyak di Kenduruan. Aris kemudian menjawab, kalau jauh sebelum kegiatan pemboran telah dilakukan penelitian seismik.

Baca Juga :   Ardiansyah Resmi Jabat Dirut PEPC

“Kalau pada ibu hamil di USG sedangkan kalau mencari minyak lapisan perut bumi yang dideteksi,” terang Aris.

Sederhanya ada tidaknya minyak di suatu wilayah, dapat dilihat dari jenis batu-batuannya. Kalau menggunakan alat yang canggih, minyak dapat ditemukan dengan mudah baik darat, sungai, dataran tinggi, maupun di tengah laut lepas.

Pria yang bekerja sebagai teknisi di lapangan, kemudian menceritakan cara mengambil atau mengeluarkan minyak dari perut bumi. Kalau secara manual seperti di Sumur Tua Wonocolo, sumur digali, ditimba, dan minyak siap dijual. Sedangkan cara modern bisa menggunakan sumur angguk, maupun rig.

“Hanya saja untuk biaya pemboran di laut lebih mahal,” tuturnya.

Soal keamanan selama pemboran, tim Pertamina EP Asset 4 menjaminnya. Pada alat pemboran memiliki alarm pengatur suhu. Ketika suhu melebihi ambang batas, bakal menunjukan peringatan dini.

Setelah minyak mentah diangkat sampai permukaan, kemudian dialirkan ke kapal tangker untuk segera diolah menjadi minyak jadi. Untuk hasil pengolahan minyak mentah bisa menjadi aspal, premiun, solar, pertamax, minyak tanah, dan avtur.

Baca Juga :   Warga Mojodelik Terganggu Flare Banyu Urip, DPRD Bojonegoro : Harusnya Ada Sosialisasi

“Itu kenapa pemerintah menarik minyak tanah karena kualitasnya menyerupai bahan bakar pesawat jet,” jelasnya.

Menerima materi Migas, salah satu peserta Adi sangat gembira. Remaja jangkung ini berterimakasih banyak kepada Pertamina, karena meluangkan waktu berbagi ilmu perminyakan.

“Kami jadi tahu apa yang sedang terjadi di Sumur ABP-1 Desa Jamprong,” sergahnya.

Waka Humas SMAN 1 Kenduruan, Mustajab, juga berterimakasih karena memilih sekolahnya menjadi sasaran program sekolah jurnalistik. Diharapkan kegiatan ini bukan yang terakhir, tapi ada tindak lanjutnya.

“SMAN 1 Kenduruan butuh dukungan dari Pertamina EP melalui program pendidikan,” pungkasnya. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *