SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban -Â Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Jumat (24/11) kemarin, mengakibatkan satu rumah di Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan longsor. Beruntung insiden yang terjadi pada pukul 14:00 WIB, tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
“Bagian dinding belakang rumah ambrol dan longsor,” ujar pemilik rumah longsor di Dusun Ngasem, Desa Jlodro, Rakijan, kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (25/11/2017).
Sehari sebelumnya, hujan mengguyur desanya sejak pukul 10.00, pada Jumat pagi. Akibatnya air dari permukiman menerjang lahan kosong bekas rumahnya.
“Tembok setinggi 3,5 meter dengan lebar 5,5 meter menyisakan puing-puing bata dan akan segera dibangun kembali,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiono, menjelaskan, Kecamatan Kenduruan yang menjadi pusat pemboran Minyak dan Gas Bumi (Migas) Sumur Albatros Putih (ABP-1) masuk dalam peta rawan bencana longsor. Sesuai data teknis BPBD, salah satu titik rawan longsor berada di hutan produktif dan lahan pertanian.
“Data tahun 2016 yang masuk rawan longsor sebenarnya Desa Jamprong dan Bendolateng,” sergahnya.
Untuk kawasan hutan produktif Jamprong, jika terjadi longsor diprakirakaan berdampak pada 659 jiwa. Dampak tersebut lebih kecil apabila dibandingkan dengan dampak longsor pada lahan pertanian mencapai 2.672 jiwa.
Sedangkan untuk Desa Bendolateng, ada dua titik yang rawan terjadi longsor di ketinggian 150 meter, dan diketinggian bukit 50 persen. Masing-masing berdampak pada 983 Kepala Keluarga (KK), dan 3.895 jiwa.
Pria yang kerap disapa Asep ini menjelaskan, selain di Kecamatan Kenduruan longsor juga rawan di lima kecamatan lainnya. Untuk Kecamatan Kerek ada dua desa yakni Desa Tengger Wetan, dan Sidonganti. Prakiraan jika terjadi longsor berdampak pada masing-masing 3.900 jiwa, dan 3.960 jiwa.
Di Kecamatan Montong sendiri, BPBD memetakan ada tiga desa yang rawan terjadi longsor. Desa Maindu prakiraan berdampak pada 3.909 jiwa, Desa Bringin 2.706 jiwa, dan Desa Guwoterus sebanyak 3.383 jiwa.
Selain itu, longsor juga rawan terjadi di Desa Ngandong, Njarum, dan Ngrejeng, Kecamatan Grabagan, Desa Gunung Anyar, dan Nguluhan, Kecamatan Soko. Terakhir Desa Bhektiharjo, dan Jadi, Kecamatan Semanding.
Untuk prakiraan dampak di Kecamatan Grabagan nihil karena titik lokasi rawan jauh dari permukiman. Sedangkan untuk prakiraan jumlah warga terdampak di Kecamatan Soko dan Semanding mencapai 28.680 ribu jiwa.
“Data rawan bencana longsor tersebut update terbaru dari BPBD, dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil),†pungkasnya.(Aim)