Berharap Lapangan Migas TBR Tak Ditutup

Sumur TBR C

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Rencana pemilik Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, menutup Lapangan Minyak dan Gas Bumi (Migas) Tiung Biru (TBR) di Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada 31 Desember 2017 ditanggapi serius sebagian warga desa sekitar. Sebab langkah tersebut dinilai tidak tepat karena dampak sosialnya di masyarakat cukup besar.

“Kalau TBR ditutup dampaknya akan besar bagi warga sekitar. Mulai sebagian warga desa di wilayah Kecamatan Purwosari, dan Tambakrejo, kerena puluhan warga lokal yang selama ini terlibat akan kehilangan pekerjaannya,” kata warga Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, Prapto, kepada Suarabanyuurip.com, Senin (25/12/2017).

Diakui Prapto, keberadaan lapangan migas TBR selama ini telah memberikan dampak positif bagi warga, karena dapat memberikan peluang kerja. Diantaranya sebagai tenaga kerja operator, security, dan road tank minyak dari TBR ke penampungan Menggung Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sehingga dapat meningkatkan perekonomiannya.

“Warga yang telibat itu tidak hanya dari warga Desa Kalisumber, Tambakrejo, dan Malingmati, Kecamatan Tambakrejo, saja. Melainkan warga desa di wilayah Kecamatan Purwosari, yaitu warga Desa Gapluk, Purwosari, dan Kuniran,” ungkapnya.

Baca Juga :   Sumur Tua Ledok Atas Nama Warga

Warga desa ring satu TBR tersebut berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro maupun pusat segera mengambil kebijakan agar Pertamina tidak menutup TBR. Jika dipaksakan ditutup tentu akan menurunkan perekonomian warga. Bahkan akan kembali menambah daftar pengangguran bagi warga desa sekitar TBR.

“Semoga saja Pertamina tidak jadi menutup sumur TBR. Sehingga penumpukkan pengangguran juga tidak akan terjadi,” imbuh pria yang juga tokoh masyarakat Desa Kalisumber ini.

Senada diungkapkan Kasturi, warga setempat. Bahwa langkah yang diambil Pertamina akan menutup lokasi TBR tentu tidaklah tepat. Karena akan menghilangkan pekerjaan bagi warga sekitar yang selama ini terlibat di TBR.

Apalagi alasannya hanya kawatir akan mengganggu aktivitas proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (T-BR). Mengingat yang diproduksi Pertamina EP Asset 4 adalah minyak dan Pertamina EP Cepu (PEPC) selaku operator J-TB yang diproduksinya adalah gas.

“Bahkan jarak lokasi antara proyek TBR dan J-TB cukup jauh meski gas TBR nantinya yang diambil,” ujar Kasturi yang saat ini bekerja sebagai operator sumur TBR.

Baca Juga :   Ijin Jalan Layang Tertahan di Ditjenka

Dalam beraktivitas, kedua perusahaan tentu sudah memperhitungkan secara detail. Baik dari peralatan yang digunakan untuk memisah antara minyak dan gas dari sumur juga canggih tidak ecek-ecek. Kemudian pengalirannya juga melalui pipa tentu sudah diperhitungkan sedemikian rupa sebelum dilaksanakan produksi.

“Mudah-mudahan Pertamina tidak menutup sumur TBR. Jadi warga lokal yang terlibat saat ini terus bisa bekerja sesuai bidangnya masing-masing,” pungkasnya.

Data yang dihimpun Suarabanyuurip.com, di Lapangan Migas TBR terdapat tiga tapak sumur, yaitu sumur TBR A, B dan C yang semuanya masuk wilayah Desa Kalisumber, dan desa dekat sumur TBR adalah Desa Tambakrejo dan Desa Malingmati, Kecamatan Tambakrejo.

Sedangkan untuk jalan utama masuk menuju kelokasi TBR adalah melalui wilayah Kecamatan Purwosari, Bojonegoro, dengan melintasi mulai Desa Purwosari, Gapluk dan Desa Kuniran.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *