SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro -Â Sebagian besar ibu rumah tangga di Bojonegoro ingin mendirikan usaha yang bisa meningkatkan ekonomi keluarga. Keterbatasan keterampilan, dan permodalan menjadikan mereka sulit mandiri dan membantu menopang ekonomi rumah tangganya.
Problema inilah yang akan diatasi pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup), Soehadi Moeljono dan Mitroatin, ketika terpilih memimpin Bojonegoro lima tahun ke depan.
Pasangan yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Mulyo-Atine” itu telah menyiapkan program pengembangan keterampilan soft skill berbasis teknologi informasi (TI) dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara gratis bagi masyarakat, utamanya yang belum bekerja.
Konsepnya, warga akan diberi pelatihan ketrampilan, dan pendampingan, agar mampu membuka usaha baru. Selain itu, mereka juga akan diberi kemudahan akses permodalan hingga pemasaran untuk mengembangkan usahanya.
Program inipun disambut gembira oleh kalangan ibu rumah tangga. Mereka merasa mendapat angin perubahan untuk peningkatan perekonomian keluarga.
Firda Dwi Choiriyati, (35), warga Desa Gajah, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menyatakan, jika ada pelatihan keterampilan yang diberikan bisa sebagai modal awal membuka usaha.
“Kalau pelatihan buat saya, cocoknya ya dibidang kuliner,” ujarnya kepada wartawan, Kamis, (12/4/2018).
Menurutnya, usaha kuliner bisa dikatakan salah satu usaha yang tidak akan hilang eksistensinya karena permintaan makanan, dan minuman tidak akan pernah sepi. Terlebih Desa Gajah merupakan wilayah perbatasan Bojonegoro – Lamongan, yang selalu ramai dilewati warga dari dalam dan luar daerah.
“Untuk merintis usaha di bidang kuliner perlu kemampuan dan kematangan strategi bisnis agar dapat bersaing di tengah pasar bisnis kuliner,” kata ibu dua anak ini.
Dengan pelatihan itu, pemilik usaha akan bisa lebih berinovasi, dan bersaing dengan pedagang lainnya yang jumlahnya semakin banyak.
“Kalau ada pelatihan memasak selain jadi tempat penyaluran hobi dan menambah pengetahuan, para ibu rumah tangga juga bisa memanfaatkan apa yang didapat untuk membuka peluang usaha sendiri,” jelas Firda, sapaan akrabnya.
Sementara, Yeni Sukmana (30), warga Desa Bakalan, Kecamatan Kapas, mengaku, di desanya memiliki potensi perkebunan yang bisa dimanfaatkan sebagai olahan makanan dan minuman ringan. Di tempat ini banyak warga yang menanam pepaya.
Hanya saja sampai saat ini belum ada pelatihan untuk mengolah potensi tersebut. Jika itu diolah bisa menjadi usaha baru yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi ibu rumah tangga.
“Dari pada dijual biasa, lebih mahal jika diolah menjadi makanan atau minuman,” sambung wanita yang bekerja di konter handphon (HP) ini.
Karena itu, baik Firda maupun Yeni, sangat mendukung jika kedepan ada pelatihan keterampilan secara gratis bagi ibu-ibu rumah tangga. Sebab akan memudahkan warga mendirikan usaha dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang dapat meningkatkan perekonomian, dan membuka lapangan pekerjaan.
“Semoga bupati terpilih mendatang selain memberikan keterampilan, juga bantuan permodalan,” harapnya.
Menanggapi hal itu, Cawabup Mitroatin, menyatakan, sudah seharusnya kaum perempuan Bojonegoro diberdayakan dengan pemberian serangkaian pelatihan. Tujuannya agar mereka memiliki bekal untuk mendirikan usaha baru, sehingga menjadi mandiri dan bisa menopang ekonomi keluarga.
“Kita juga akan memberikan kemudahan akses permodalan dan pemasaran agar usaha mereka bisa berkembang. Karena selama ini, selaian keterampilan, modal dan pasar menjadi kendala untuk memajukan usaha,” pungkas Bu Mit, sapaan akrab Mitroatin.(rien)