Baru Dua Industri Migas Sadar Mitigasi Bencana

kepala BPBD Tuban Joko Ludiono

SuaraBanyuurip.com -  Ali Imron

Tuban- Kesadaran pelaku industri di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, untuk melakukan mitigasi bencana masih rendah. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, baru dua perusahaan yang melakukan sejak 2014 lalu.

Dua perusahaan itu adalah Operator Migas Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina- Petrochina East Java (JOB P-PEJ), dan Kilang PTTrans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI). Mereka melatih warga sekitar dalam menghadapi bencana kegagalan teknologi industri.

“Baru dua perusahaan Migas yang sadar pentingnya melatih kapasitas warga sekitar,” ujar Kepala Pelaksana  (Kalaksa) BPBD Tuban, Joko Ludiono, saat dikonfirmasisuarabanyuurip.com di kantornya Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo Tuban, Senin (16/4/2018).

Joko menjelaskan, Tuban sekarang sudah bergeser dari daerah pertanian ke industri. Sehingga berpengaruh terhadap perubahan tata guna lahan. 

“Kalau ada tata guna lahan, tentunya ada perubahan lahannya,” ucapnya.

Pemicu bencana di Tuban adalah hidrometerologi berbeda dengan kacamata BPBD. Dimana selain cuaca dan iklim, daya tampung dan daya dukung sudah rendah.

“Dulu sungai bisa menampung debit air sekian, sekarang tak bisa,” terang mantan Camat Widang ini.

Dengan adanya perubahan ke industri inilah, diharapkan ada informasi linier terkait pengurangan resiko bencana. Pelaku industri bertanggungjawab melakukan mitigasi bencana agar masyarakat merasakan ada perhatian dari perusahaan di lingkungannya.

Baca Juga :   Pelatihan Keterampilan Bisa Jadi Solusi

Untuk itu, BPBD siap membantu menganalisa potensi resiko bencana di setiap industri. Sinergi ini menjadi sebuah kebutuhan, agar mindset pelaku industri sama dengan manajemen JOB P-PEJ maupun TPPI.

Menurutnya, mitigasi bencana industri sangat tepat dilakukan setelah musim hujan seperti ini. Sehingga jangan sampai pelatihan dilaksanakan setelah ada bencana dan memakan korban jiwa.

“Kami terbuka dan saya akan membantu transfer informasi dari perusahaan ke warga sekitar,” janji Joko.

BPBD, lanjut dia, juga akan menjadi penghubung kerawanan di industri terkait. Agar masyarakat semakin tahu resiko industri, sehingga semakin mudah meminimalisir kerugiannya.

Sebagai contoh JOB P-PEJ melatih warga Desa Rahayu, Kecamatan Soko, dan Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel. Hasil komunikasi BPBD dengan warga, peserta pelatihan merasa senang karena ada informasi penting terkait keberadaan industri itu sendiri.

“Jika mitigasi ini dilakukan tentu warga sekitar industri akan merasa terlindungi,” tandasnya.

Sementara, Kepala Desa Socorejo, Kecamatan Jenu, Arif Rahman Hakim, merasa jika semua desa ring 1 industri di Tuban harus mendapat pelatihan semacam itu. Mitigasi bencana sebuah kebutuhan yang harus dilakukan demi keselamatan warga sekitar.

“Socorejo sebagai ring 1 industri semen BUMN belum sama sekali dilatih jika terjadi kegagalan teknologi industri,” sergah Arif sapaan akrabnya.

Baca Juga :   Warga Sumber Kembali Blokir Jalan Sumur Gas

Mantan aktifis PMII Jogja ini, berencana berkomunikasi dengan industri semen plat merah yang beroperasi di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek untuk meningkatkan kapasitas warganya. Catatannya ada dua resiko bencana yang mengintai warganya.

“Pertama meledaknya Silo, dan kedua banjir Solar dari pelabuhan semen,” bebernya.

Beberapa tahun lalu, ungkap dia, kedua fasilitas itu merugikan warga. Namun belum diketahui masalahnya, sampai sekarang belum ada pelatihan mitigasi bencana di ring 1 industri semen tersebut.

“Melalui Desa Tangguh Bencana atau Destana akan saya komunikasikan dengan industri semen ini,” pungkasnya.

Sebatas diketahui, beberapa industri yang memiliki potensi bencana meliputi, di Utara Kecamatan Palang terdapat dua kapal alir muat FSO Gagak Rimang dan Cinta Natomas yang menampung minyak dari Blok Cepu dan Blok Tuban. Di Kecamatan Jenu ada industri listri se-Jawa Bali, Terminal BBM, industri Semen BUMN dan Kawasan Industri Tuban.

Sementara di Kecamatan Tambakboyo ada industri Semen Asing. Di Kecamatan Senori dan Kenduruan ada lokasi pemboran Migas yang dioperatori oleh salah anak usaha dari Pertamina. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *