Komisi V DPR RI Beberkan Penyebab Ambruknya Jembatan Widang

Komisi V kunjungi jembatan ambruk

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban - Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Sigit Sosiantomo, terang-terangan menyebut jika penyebab ambruknya Jembatan Cincim II Widang-Babat karena berlebihnya tonase tiga truk kendaraan. Pernyataan tersebut setelah memperoleh paparan sekilas dari Direktur Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga, Iwan Zarkasi di lokasi kejadian pada Kamis (19/4/2018) siang.

“Penyebabnya karena ada tiga truk berjajar yang muatannya gak normal dari kekuatan jembatan,” ujar Sigit Sosiantomo, kepada suarabanyuurip.com setelah melihat langsung proses evakuasi dua badan truk di jembatan yang melintang di atas Sungai Bengawan Solo.

Alumnus ITS Surabaya ini yakin, jika tiga truk muatan pasir dan bahan semen berjalannya normal tentu tidak akan terjadi musibah. Jembatan buatan Inggris pada tahun 1975 ini, didesain khusus setiap potong beton dilalui maksimal tiga truk.

Atas kejadian ini, Sigit mendesak pemerintah untuk mengefektifkan lagi forum komunikasi lalu lintas yang terdiri dari Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Korlantas. Tujuannya agar kendaraan logistik berat yang melintas diatur, supaya muatannya tidak melebihi kekuatan jembatan.

Baca Juga :   Polres Blora Gagalkan Penyelundupan Narkoba ke Rutan

Sebenarnya data kendaraan perusahaan yang melebihi beban sudah ditangan pemerintah. Sekarang tinggal tugas pemerintah menguatkan lagi regulasinya. Jika perlu perkarakan saja perusahaan yang sengaja membiarkan kendarannya membawa beban lebih.

“Kami harap pemerintah mau menegakkan aturan dan memperkarakan perusahaan yang sengaja membuat kerugian negara seperti di Jembatan Widang-Babat ini,” harap Sigit.

Selain itu, Sigit mengakui jika setelah wewenang jembatan timbang di daerah ditarik pusat maka pengontrolan kendaraan yang bermuatan tidak maksimal. Hal ini karena, jembatan timbang masih di set-up untuk mengurangi kerusakan jalan.

Soal perawatan dan deteksi dini kekuatan jembatan, pihaknya tidak mempersoalkannya karena Bina Marga rutin melakukannya. Pekerjaan Rumah (PR)-nya hanya bagaimana supaya bisa mengontrol muatan kendaraan berlebih itu.

“Di Indonesia masih ada 45 jembatan serupa yang perlu diperhatikan pemerintah,” tegas anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Data dari Direktur Jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga, Iwan Zarkasi, menyebutkan jika jembatan ini berkekuatan 40 ton, dan didesain maksimal mampu menahan kendaran 70 ton. Kendati demikian, jika dihitung beban dari tiga truk yang jatuh ke sungai lebih dari 145 ton.

Baca Juga :   Desa Sekitar Tambang Tuban Krisis Air

“Jadi bisa disimpulkan siapa yang salah,” pungkasnya.(Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *