Membangkitkan Cinta Terhadap Karawitan

Cawabup mitroatin gending

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Kemajuan jaman telah mengakibatkan mayoritas kesenian tradisional di Bojonegoro terpinggirkan, tidak terkeculai Kesenian Karawitan. Seni tarik suara yang dipadu piranti gamelan ini, kalah dengan kesenian modern seperti elektone, dangdut, maupun lainnya.

Kondisi tak lepas dari bidikan pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin, untuk kembali memajukan kesenian tradisional. Pasangan yang dikenal dengan sebutan “Mulyo-Atine” telah menyiapkan sejumlah program di bidang seni dan budaya agar kesenian tradisional tetap bertahan dan berkembang, tidak tergilas jaman.

Caranya melalui pelatihan, pendampingan, dan dukungan kelengkapan sarana prasarana maupun pemberian ruang melalui event-event kepada kelompok seni tradisi.

Diakui Ketua Karawitan Laras Jowo, asal Desa Banjarjo, Kecamatan Sumberjo, Pujiono, peminat karawitan di era teknologi sekarang ini mulai berkurang. Masyarakat menganggap kesenian ini sudah kuno, dan lebih memilih elektonan untuk memeriahkan hajatan. 

“Masih ada tanggapan, tapi ya jarang. Paling untuk event-event Pemkab, nikahan, dan khitanan. Itu pun yang nanggap orang-orang tertentu,” katanya kepada wartawan, Jumat (20/4/2018). 

Pria yang berprofesi sebagai dalang ini sudah berkecimpung di dunia seni Karawitan sejak usia muda. Berawal dari senang melihat kesenian ini, kemudian mempelajarinya sampai bisa seperti sekarang. 

Hampir semua alat musik tradisional bisa dimainkan Pujiono. Kadang menemani sinden sebagai vokal laki-laki, sehingga sering kali diminta bantuan untuk mengisi kelompok karawitan lainnya. 

Baca Juga :   DPRD Bojonegoro Apresiasi Pegelaran Seni Budaya Kaliombo

“Kalau tampil di mana saja, wah sudah tidak terhitung. Alhamdulilah Bojonegoro dan Kabupaten tetangga sudah semua,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia bersama kelompoknya terus berupaya melestarikan seni ini. Caranya mengenalkan  ke seluruh lembaga sekolah mulai tingkat SD sampai SMA.

“Yang eksis ini di SDN Jono, Kecamatan Temayang. Di sana murid-muridnya ada yang bisa memainkan alat musik Karawitan,” ungkapnya. 

Menurutnya, selama ini belum ada perhatian dari Pemkab berupa pendampingan maupun pembinaan, agar  eksistensi seni ini tetap bertahan. 

“Saya rasa Pemkab sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan kesenian ini,” tegasnya. 

Sementara, Kismani, Ketua Karawitan Sri Kencono Laras asal Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan, menyatakan,  selama ini untuk mempertahankan  Karawitan dengan giat berlatih sendiri untuk mengasah kemampuan. 

Selama ini, kelompok yang dipimpinnya sudah tampil di seluruh wilayah di Bojonegoro, bahkan hingga ke kabupaten tetangga seperti Blora, Tuban, dan Lamongan. 

“Alhamdulilah masih ada tanggapan, meski tidak bisa dikatakan sering,” kata pemegang gendang ini dikonfirmasi terpisah. 

Untuk melestarikan kesenian ini, dia bersama kelompoknya dan  seniman di Bojonegoro, mengenalkannya ke semua sekolah agar bisa mendapatkan bibit-bibt baru untuk para pengrawit.

Baca Juga :   Disbudpar Bojonegoro Imbau Obyek Wisata Tingkatkan Keamanan Pengunjung

“Sekarang itu susah cari pengrawit baru, kebanyakan suka lagu modern,” ungkapnya. 

Menurutnya, selama ini belum ada pembinaan maupun pelatihan untuk peningkatan kapasitas pelaku seni maupuk kelompok karawitan dari Pemkab. 

“Kalau ada program pelatihan saya sangat setuju, dan berharap Pemkab kedepan bisa mewujudkan itu,” pungkasnya.

Kepala Dinas  Kebudayaan dan  Pariwisata (Disbudpar)  Bojonegoro, Amir Syahid, menampik jika pihaknya selama ini dianggap  tidak memberikan pelatihan, dan pendampingan kepada seni tradisional,  termasuk seni karawitan.

“Kita memberikan edukasi kepada semua lembaga sekolah tentang pentingnya seni karawitan, juga  melibatkan  mereka dalam berbagai acara salah satunya mengikutkan di event event besar,” tegas mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro itu.

Dimintai tanggapannya, Cabup Soehadi Moeljono, menyatakan, untuk melestarikan dan mengembangkan kesnian tradisional ini diperlukan pelatihan dan pembinaan, kelengkapan sarana prasarana, serta event-event agar masyarakat kembali mencintai kesenian ini.

“Ini sudah menjadi salah satu prioritas program kami kedepan untuk kembali memajukan kesenian tradisional di Bojonegoro agar menjadi ikon dan budaya khas,” tegas mantan Sekda Bojonegoro yang sudah 32 tahun mengabdikan diri sebagai PNS di lingkup Pemkab.(rien)  

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *