SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kalangan warga tak mampu di wilayah Kabupaten Bojonegoro berharap, program bedah rumah yang digagas pasangan Cabup dan Cawabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin, bisa terlaksana. Dinilai program bernuansa kemanusiaan itu sangat dibutuhkan, dan mampu mengangkat derajat kehidupan mereka.Â
Terbukti setelah kalangan penerima beras miskin, kini giliran warga penerima program keluarga harapan (PKH) mendukung program yang dibiayai APBN tersebut. Warga prasejahtera baik dari wilayah  pedesaan dan perkotaan itu, berharap menerima  program dari pasangan Mulyo Atine.Â
Seperti disampaikan salah satu penerima PKH, Rukayah. Warga Desa Tapelan, Kecamatan Kapas, itu mengaku, hingga saat ini belum memiliki rumah layak huni. Rumah yang ditempati dindingnya masih triplek, dan gentengnya banyak yang bocor setiap hujan turun.
“Kalau ada program seperti itu setuju sekali. Semoga nanti bisa dapat jatah,†harapnya kepada wartawan, Sabtu (5/5/2018).
Selama ini suaminya hanya bekerja serabutan. Pendapatan yang diperoleh tidak menentu. Hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.
“Hanya suami yang kerja. Jadi pendapatannya ya seadanya,†ucapnya.
Beruntung Ibu dua anak ini mendapatkan bantuan PKH yang dapat meringankan beban hidupnya selama ini. Dengan program tersebut bisa menyekolahkan anak, memeriksakan kesehatan, dan sebagainya.
“Nggak bisa mikir, seandainya nggak dapat PKH. Dari mana biaya untuk menyekolahkan anak,†tuturnya.
Menurutnya, pemerintah desa sudah mendata rumahnya untuk dilakukan rehab, namun sampai sekarang perbaikan belum dilakukan karena masih menunggu anggaran.Â
“Jadi ya menunggu saja,” imbuhnya.Â
Penerima PKH lainnya, Supriono (50), warga Desa Dander, Kecamatan Dander, mengaku, mendirikan rumah 30 tahun lalu dengan modal seadanya, dan sampai sekarang belum pernah diperbaiki. Rumah tersebut ditempati bersama istrinya.
Dinding rumahnya bagian bawah dari kulit kayu jati yang tipis, dan atasnya dari triplek. Sedangkan laintainya masih tanah. Begitu juga gentengnya sudah berusia tua, dan banyak ‘grupil’ sehingga bocor di sana-sini waktu hujan.
“Semoga saja tidak roboh,” ujarnya ditemui di rumahnya.Â
Pemerintah desa telah melakukan perbaikan rumahnya, namun tidak secara menyeluruh karena memakan biaya cukup besar.Â
“Bisa sampai lima juta lebih, padahal banyak yang rumahnya sama seperti saya. Jadi ya memang harus dibagi,” ungkapnya.Â
Baginya bisa mendapat bantuan bedah rumah adalah merupakan rezeki yang luar biasa. Pendapatannya dari bekerja sebagai serabutan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Semoga bupati mendatang bisa memberikan bantuan bedah rumah kepada kami, agar bisa memiliki rumah yang layak,” pungkasnya.
Menanggapi hal itu, Cabup Soehadi Moeljono, menyatakan, dalam lima tahun kedepan akan melakukan rehabilitasi rumah tidak layak huni bagi warga miskin secara bertahap. Rehab yang dilakukan mulai dari plesterisasi, hingga bangunan rumah, agar menjadi tempat tinggal yang aman, nyaman, dan layak ditempati.
“Ini sudah jadi prioritas program kami kedepan,†pungkas Cabup yang berpasangan dengan Kader NU ini.(rien)