30 persen Produksi Minyak Nasional Dipasok dari Jatim

Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa

SuaraBanyuurip.comAhmad Sampurno

Gresik – Wilayah Jawa Timur (Jatim) memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. 30 persen produksi minyak dan12 persen kebutuhan gas nasional dipasok dari lapangan migas di wilayah ini.

Sekarang ini jumlah produksi minyak nasional sebesar 800 ribu barrel per hari (Bph).

Ada 32 kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) beroperasi di wilayah SKK Migas Jabanusa, dan 16 perusahaan sudah berproduksi.

Menurut Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Ali Masyhar, saat ini produksi tertinggi ada di Blok Cepu yakni di atas 200 ribu Bph dan diupayakan terus bertambah.

“Tetapi untuk menambah produksi dibutuhkan beberapa upaya dan hal itu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” jelasnya saat berada di Gresik, Rabu (9/5/2018).

Diakui, produksi minyak maupun gas mengalami penurunan, sebab Migas bukan sumber daya yang bisa diperbaharui. Namun SKK Migas Jabanusa dan K3S yang ada di Jabanusa terus berupaya menggenjot produksi terutama minyak mentah setiap harinya.

Ali, sapaan akrabnya, mengungkapkan, blok migas di wilayah Jatim lebih didominasi gas, tetapi tidak semua temuan bisa langsung dieksploitasi karena gas harus menunggu pembelinya lebih dahulu. Gas yang dihasilkan tidak bisa disimpan dalam tabung kecuali melalui pengelolaan teknis yang rumit.

“Gas ini beda dengan minyak. Gas tidak bisa langsung di eksploitasi karena harus menunggu pembeli dulu,” tuturnya.

Baca Juga :   JOBP-PEJ Mangkir dari Rapat Konten Lokal

Khusus untuk produksi gas, Jatim masih menyimpan potensi besar dari lapangan lepas pantai yang dikelola Kangean Energi, Husky CNOOC Madura Limited (HCML) dan Petronas. Ada 4 lapangan milik Husky yang siap berproduksi, dengan potensinya cukup besar.

“Kedepan, Husky akan menjadi backbone dalam penyediaan energi gas bumi bagi Jatim,”  sambung Kepala Devisi Komersialitas Minyak dan gas Bumi SKK Migas Waras Budi Santoso.

Menurutnya, ada banyak faktor yang acapkali menghambat kegiatan eksplorasi dan eksplotasi hingga gas sampai ke tangan pembeli. Ketidaktepatan jadwal produksi ini yang membuat KKKS yang sudah berkomitmen memproduksi migas bisa dirugikan karena calon konsumen mengalihkan kebutuhanya ke sumber mineral lainnya, misalnya solar dan batubara.

Dicontohkan, produksi gas oleh Husky CNOOC Madura Limited (HCML) di perairan Sampang Madura sejak 2017, namun hingga kini belum semua gasnya bisa terserap pasar.  Sesuai informasi sekitar 30 MMcfd produksi gas HCML belum terserap pasar secara maksimal.

“Masalah ini harus dicari solusinya. Termasuk bagaimana saat nanti 4 lapangan baru HCML bisa segera memberi tambahan produksi. Pemerintah sudah berupaya melakukan deregulasi agar rantai perizinan dalam industri hulu migas tidak menjadi hambatan,” tambah Waras.

Khusus gas HCML dari lapangan di lepas pantai Sumenep yang diharap mulai produksi akhir 2019 sangat dinantikan PT Petrokimia Gresik yang kini tengah bersiap mengembangkan pabrik Amoniak Urea II. Pabrik itu membutuhkan gas sebesar 85 Milion Metric  Cubic Feet per Day (MMcfd).

Baca Juga :   Pertamina Patra Niaga Borong 70 Penghargaan di Ajang ENSIA 2025

“Untuk sementara ini, produksi pabrik urea memang masih harus ditopang oleh 4 KKKS. Tapi nantinya, akan tetap dipasok dari gas HCML yang mudah-mudahan bisa berproduksi akhir 2019,” sergah Manager Pengembangan PT Petrokimia Gresik, Ir Hari Winarto MT, saat menjadi pembicara dalam Lokakarya Media FKKIHM Periode 1 2018 yang digelar SKK Migas Jabanusa itu.

Sedangkan pabrik Amoniak Urea I PT Petrokimia Gresik yang sudah beroperasi sejak 1994 lalu, mampu menyerap  65 MMcfd gas setiap harinya.

“Bahan baku utama pupuk urea memang gas bumi dan kami cukup tenang karena di Jatim produksi gasnya sudah baik, ” beber Hari.

Saat ini juga ada tiga pembangkit listrik PT PJB yang sudah menggunakan gas seluruhnya yakni pembangkit Muara Karang, Pembangkit Muara Tawar serta Unit Pembangkit Gresik. Sementara pembangkit yang lain seperti di kawasan pembangkit listrik Paiton masih menggunakan sistem energi mix dimana jika kebutuhan pasokan listrik tinggi dan membutuhkan produksi yang cepat digunakan mix antara batubara dan gas.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *