SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Proses tukar guling lahan pengganti tanah kas desa (TKD) Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, seluas 12, 3 hektar (Ha)Â yang memakan waktu selama enam tahun sejak 2012 lalu, akhirnya selesai pada Selasa (8/5/2018) kemarin.Â
TKD tersebut selama ini dimanfaatkan untuk pembangunan tapak sumur (Well Pad) C dan bagian jalur pipa proyek Banyu Urip, Blok Cepu.
Lahan pengganti TKD seluas 20, 4 ha, milik 19 pemilik lahan yang lokasinya berada di wilayah Desa Gayam. Jumlah total uang TKD Gayam yang dibayarkan sebesar sekitar Rp 70 miliar.
Pembayaran tanah pengganti dan pelepasan TKD Gayam yang dilaksanakan di Gedung Karang Taruna setempat itu dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda), SKK Migas, EMCL, Kantor Pertanahan Nasional (KPN) Bojonegoro, Muspika, Pemdes, BPD, dan pemilik lahan.
“Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang mendukung penyelesaian proses ini,” kata Kamidin, salah satu pemilik tanah pengganti yang dibebaskan kepada suarabanyuurip.com, Rabu (9/5/2018).
Menurutnya, proses tanah pengganti TKD Gayam ini dapat selesai atas dukungan Pemerintah Desa Gayam, BPD, Pemkab, Kantor Pertanahan Nasional, Pemerintah Provinsi, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), dan SKK Migas.
“Kita akan manfaatkan uang pembebasan ini dengan sebaik-baiknya. Bukan untuk kebutuhan konsumtif, tapi produktif,” ucap warga Dusun Temlokorejo ini.
Rencananya, selain untuk membeli sawah lagi, uang hasil penjualan akan dikembangkan untuk usaha. Agar tetap ada pendapatan sebagai pengganti lahan yang telah dijual untuk kepentingan proyek migas.
“Ini juga sebagai bentuk dukungan kami terhadap proyek negara. Apalagi 25 persen kebutuhan minyak Indonesia berasal dari sini,” tutur pria yang juga sebagai Koordinator Penawar Lahan Pengganti TKD Gayam ini.
Senada disampaikan pemilik lahan lainnya, Ngatini. Dia mengaku lega akhirnya bisa menerima uang pengganti lahannya seluas lebih dari 3 ribu meter persegi (M2). Uang tersebut akan digunakan untuk membeli sawah lagi dan ternak.
“Bisanya bertani ya untuk beli sawah dan sapi,” timpalnya.
Kepala Desa Gayam, Winto mengaku bersyukur atas selesainya proses tukar guling lahan pengganti TKD ini yang sudah memakan waktu bertahun-tahun.
“Ini proses terakhir yang kita nantikan dan tunggu selama ini,” ucap Winto. (rien)