Sekdes Yakini Industri Manufaktur Percepat Kurangi Kemiskinan

Cabup Soehadi Moeljono

SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia

Bojonegoro – Sektor pertanian sangat berpeluang mengurangi kemiskinan, dan pengangguran di Bojonegoro. Jika bidang ini digarap maksimal, mampu meningkatkan nilai ekonomi, dan menciptakan lapangan pekerjaan dalam jangka panjang.

Berdasarkan Produk Domestik Regional (PDRB) Bojonegoro tahun 2016 lalu sebesar Rp52 triliun. Sebanyak 40 persen atau sekitar Rp20 triliun disumbang sektor migas, dan 20 persen atau Rp10 triliun dari sektor pertanian, dengan serapan angkatan kerja 10 ribu orang di sektor migas, dan 450 ribu orang angkatan kerja di sektor pertanian.

Kondisi inilah yang yang ditangkap pasangan calon bupati (cabup) dan wakil bupati (Cawabup), Soehadi Moeljono dan Mitroatin, untuk melakukan transformasi secara struktural guna mempercepat pembangunan industri jasa, dan manufaktur yang dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani, dan menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi warga.

Sementara itu di Desa Bubulan, Kecamatan Bubulan, walau terdapat ratusan pemuda  menganggur,  namun belum ada satupun yang melirik sektor pertaniam sebagai ladang penghasilan. 

“Ada 400 pemuda yang menganggur di sini, tapi ya tidak ada yang mau menjadi petani,” kata Sekretaris Desa Bubulan, Supriyadi, kepada wartawan, Sabtu (26/5/2018). 

Banyak potensi pertanian di wilayahnya yang seharusnya bisa diolah menjadi bahan makanan atau tepung untuk meningkatkan nilai jual hasil panen saat harga jeblok. Hanya saja, selama ini para petani langsung menjual hasil panen kepada tengkulak. 

“Kalau ada pabrik pengolahan hasil pertanian, pasti bisa menyerap tenaga kerja meski belum semuanya,” tuturnya. 

Baca Juga :   DaDI Kampanye Keliling Blok Cepu

Keberadaan pabrik pengolahan hasil pertanian, menurutnya bisa berkembang di Desa Bubulan asalkan Pemkab Bojonegoro serius menggarapnya. Selain membuka peluang kerja, juga usaha. 

“Misalnya pabrik tepung, itu butuh naker. Dan sangat bisa menyerap tenaga kerja lokal,” tandasnya. 

Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan tenaga terampil melalui pemberian pelatihan, pendampingan dan bantuan pemasaran untuk produk yang dihasilkan. Industri manufaktur dengan bahan baku  pertanian, bisa dipastikan akan menjadi penopang ekonomi masyarakat Bubulan. 

“Harapannya, Pemkab Bojonegoro memberi pelatihan dan membantu pemasaran kalaupun ada rencana,” pungkasnya. 

Senada disampaikan Sekretaris Desa Kapas, Kecamatan Kapas, Hajjar Duvita. Sektor pertanian di wilayahnya belum menarik minat para pemuda yang sudah memiliki pemikiran modern. 

“Meski Kapas ini termasuk desa, tapi masyarakatnya sudah ke kotaan semua. Jadi mustahil mau bertani,” ujarnya dikonfirmasi terpisah. 

Pertanian yang ada sekarang ini masih digarap oleh para orang tua, belum ada regenerasi sama sekali. Jika ada pabrik pengolahan hasil pertanian masih dimungkinkan menarik minat para pemuda untuk bekerja di desanya. 

“Bisa saja membuka peluang tenaga kerja, tapi harus konsisten juga dalam mengembangkan industri manufaktur di sini,” ucapnya.

Menurutnya,  membangun pabrik pengolahan tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh perhatian dan pemetaan yang jelas dari pemerintah setempat, agar tidak berhenti di tengah jalan.

“Harus dilatih dan estimasi pendapatan yang jelas,” tegasnya. 

Pihaknya berharap, Pemkab bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang melalui kajian terlebih dahulu. Sehingga, masyarakat terutama para pemuda benar-benar bisa bekerja dan mengembangkan usaha yang ada dari keberadaan pabrik pengolahan hasil pertanian tersebut. 

Baca Juga :   Produsen Susu Segar Bojonegoro Sambut Gembira Kementan Ajukan Perpres Serap Susu Lokal

Menanggapi hal itu, salah satu Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono, menyatakan, pembangunan industri jasa dan manufaktur ini merupakan salah satu cara agar masyarakat tidak hanya bergantung pada sektor migas yang dalam beberapa puluh tahun kedepan akan habis, namun lebih memaksimalkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pengangguran.

“Industri migas hanya membutuhkan banyak tenaga kerja pada jangka waktu satu sampai tiga tahun saat konstruksi berlangsung, setelah itu akan kembali terjadi penumpukan pengangguran. Kalau industri jasa dan manufaktur ini, akan terus berkelanjutan karena produksi pertanian tidak akan pernah habis dan akan selalu ada,” jelas Pak Mul.

Untuk mendukung industri manufaktur ini, lanjut dia, sektor pertanian harus maksimalkan. Caranya melakukan percepatan pembangunan Waduk Gongseng di Kecamatan Temayang, beserta jaringan sarana irigasi persawahan di wilayah selatan Bojonegoro, dan jaminan ketersediaan pupuk bagi petani.

“Ketika hal ini berjalan dengan baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian sejalan dengan peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku diproduksi dari para petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan pendapatan para petani akan berkorelasi positif terhadap meningkatnya kesejahteraan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” pungkas cabup yang berpasangan dengan Kader NU ini.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *