Sabet Banyak Prestasi, Pernah Diundang Presiden Jokowi

Hafidz penyandang tuna netra

SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia

Bojonegoro – Memiliki keterbatasan tidak membuat Hafidz Ahmad, (13), pelajar SMP Negeri 7 Bojonegoro, Jawa Timur, patah semangat. Siswa kelas 8 A yang menderita tuna netra itu mampu mengukir prestasi di sekolahnya. 

Hafidz, panggilan akrbanya, mewakili sekolahnya dalam kompetisi Bahasa Inggris di Jakarta. Prestasi lainnya, Hafidz di 2017 lalu, berhasil sebagai juara dua MTQ tingkat Kabupaten Bojonegoro, karena suaranya merdu dalam melafalkan ayat-ayat Al-Quran.

Lebih membanggakan lagi, putra kedua dari pasangan Ahmad Munib dan Siti Nurul Sadiyah yang bertempat tinggal di Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberrejo, itu pernah diundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara Jakarta dalam peringatan Hari Anak Nasional di 2015.

“Setiap orang tidak ada yang sempurna, pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Dengan kekurangan ini saya terus belajar,” kata siswa yang mengaku mengalami kebutaan sejak lahir itu.

Saat ini Hafidz mengaku sedang menghafalkan Al Qur’an. Dari 30 juz, dan sudah hafal 2 juz.

“Ini sudah menjadi impian dan cita-cita saya,” ucap siswa yang hobi bermain piano dan bernyanyi ini.

Baca Juga :   SMK Mulai Bergerilya Menjaring Siswa Baru

“Insya Allah, saya bisa hafal dan ibu sayalah yang membimbing saya menghafal Al Qur’an, ibu yang membaca, kemudian saya yang menirukan berkali kali sampai hafal,” lanjutnya bersemangatm

Ketekunan dan semangat tinggi Hafidz diakui temen-teman sekelasnya. Menurut mereka Hafidz adalah seorang siswa pandai tak terkalahkan dalam bidang studi Bahasa Inggris dan Agama.  

Selain itu selalu mengikuti Jamaah Sholat Dhuha dan Dhuhur di Musholla, sekolahnya.

“Pantas apabila Hafidz mewakili siswa SMP kita dalam kompetisi berbahasa Inggris di Jakarta,” ujar Dian salah satu teman Hafidz diamini siswa lainnya.

Sayangnya semangat Hafidz ini belum mendapat dukungan penuh dari sekolahnya karena belum memiliki fasilitas maupun guru pendamping untuk anak berkebutuhan khusus.

“Ya, jadi Hafidz kegiatan belajarnya bercampur dengan semua anak anak yang tidak tuna netra,” sambung Kepala SMP Negeri 7 Bojonegoro, Suhartini.

Di SMP 7 Bojonegoro belum miliki buku mata pelajaran berhuruf braile maupun digital seperti yang dibutuhkan siswa tuna netra.

“Tapi dengan segala keterbatasan yang ada, Hafidz tetap bersemangat belajar dan terbukti dia berprestasi,” jelasnya.

Baca Juga :   Penguatan Posdaya Jadi Program Inti KKN

Karena keterbatasan fasilitas tersebut apabila memasuki masa ujian, soal yang dikerjakan Hafidz, ada yang membacakan dan dituliskan sesuai jawaban lisan dari Hafidz.

Sedangkan untuk membantu Hafidz keluar masuk kelas maupun berkegiatan di sekolah, menggunakan tongkat untuk mencari jalan dan kerap kali dibantu rekan rekannya. 

“Setiap hari berangkat dan pulang sekolah dijemput orang tuanya,” pungkas Suhartini.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *