SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban- Sebagian besar Kabupaten/Kota di wilayah Jawa Timur (Jatim), termasuk Kabupaten Tuban sudah masuk kategori kekeringan ekstrem. Hal tersebut terpantau dalam peta monitoring hari tanpa hujan berturut-turut.
Peta analisis distribusi curah hujan dasarian III Agustus 2018, dan peta prakiraan curah hujan dasarian I September 2018 di Provinsi Jawa Timur.
“Tuban juga termasuk kategori kekeringan ekstrem,” ujar Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Tuban, Desindra Deddy Kurniawan, kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (1/9/2018).
Indra sapaan akrabnya, menjelaskan, pertama, Hari Tanpa Hujan (HTH) Jawa Timur sebagian besar terjadi Kekeringan Ekstrem (>60 hari). Sedangkan masih ada hujan terjadi di sebagian kecil Kab/Kota Pacitan, Tulungagung, Malang, Batu, Lumajang, dan Banyuwangi.
Kedua, distribusi curah hujan di Provinsi Jawa Timur sebagian besar berkisar 0 – 10 mm. Ketiga, prakiraan deterministik curah hujan dasarian I September 2018 untuk Provinsi Jawa Timur pada umumnya berkisar 21 – 50 mm. Peluang curah hujan 51 – 75 mm terjadi di sebagian kecil Kabupaten Jember dan Banyuwangi.
“Keempat, prakiraan probabilistik curah hujan dasarian I September 2018 untuk Provinsi Jawa Timur sebagian besar kurang dari 50 mm dengan peluang lebih dari 90 %,” jelas pria ramah ini.
Kekeringan di musim kemarau 2018, setidaknya sudah dirasakan 28 desa di delapan kecamatan di Tuban. Untuk memenuhi krisis air bersih tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban menyiapkan anggaran sebesar Rp175 juta.
“Sekarang ada delapan kecamatan yang kami dropping air bersih,” sambung Kalalsa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiono di kantornya.
Mantan Camat Widang ini, menjelaskan, di Kecamatan Montong ada dua desa terdampak kekeringan yaitu, Desa Guwoterus, dan Nguluhan. Sedangkan di Kecamatan Grabagan bertambah satu desa yang membutuhkan dropping air yakni Desa Waleran. Selain itu, di Desa Mojomalang dihapus dari daftar desa krisis air karena air disana masih cukup.
“Selama ini di Desa Mojomalang belum sampai didropping. Jadi yang semula 26 desa terdampak, minus satu desa, dan bertambah tiga sehingga total ada 28 desa mengalami krisis air bersih,†terangnya.
Untuk mendropping air bagi 12 ribu lebih Kepala Keluarga (KK) di 28 desa di delapan kecamatan. Dropping air dimulai pada Selasa tanggal 10 Juli 2018 lalu.
Hasil pemetaan tim BPBD di lapangan, desa yang sekarang kekurangan air beserta jumlah KK- nya meliputi, 440 KK di Desa Sembungrejo,380 KK di Genaharjo, 160 KK di Jadi, 1.050 KK di Prunggahan Kulon di Kecamatan Semanding. 580 KK di Desa Ngandong, 320 KK di Grabagan, dan 900 KK di Gesikan Kecamatan Grabagan.
Lainnya 650 KK di Desa Gaji, dan 120 KK di Sidonganti Kecamatan Kerek. 1.330 KK di Desa Medalem, 750 KK di Sendang, 1.223 KK di Jatisari, 1.103 KK di Wanglukulon, 300 KK di Wangluwetan, 920 KK di Rayung, 568 KK di Sidoharjo, dan 241 KK di Desa Leran Kecamatan Senori.
Ditambah 100 KK di Desa Kedungjambangan dan 150 KK di Kumpulrejo Kecamatan Bangilan. 261 KK di Brangkal, 64 KK di Parangbatu, 340 KK di Sembung, 120 KK di Sukorejo, dan 350 KK di Pacing Kecamatan Parengan. Terakhir 50 KK di Desa Sadang di Kecamatan Jatirogo.(Aim)