Andalkan Hujan dan Air Limpasan Lapangan Banyuurip

Embung Desa Bonorejo Kering

SuaraBanyuurip.com -  Ahmad Sampurno

Bojonegoro – Musim kemarau yang masih berlangsung hingga saat ini telah menyebabkan embung di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kering kerontang sejak sebulan terakhir. Kondisi ini mengancam tanaman pertanian karena petani kesulitan mendapatkan air. 

Masyarakat setempat berharap keberadaan embung yang dibangun pada tahun 2017 lalu itu juga bisa menampung limpasan air dari lokasi Lapangan Minyak Banyuurip yang sudah dimurnikan. Sehingga bisa mengairi tanaman pertanian warga. 

Sardi (45) warga setempat, menyatakan, pembangunan embung itu belum ada satu tahun, dan pada musim kemarau ini dilakukan perbaikan kembali.

“Itu baru saja dibronjong, waktu masuk musim kemarau ini,” katanya sambil duduk di atas motor bersama rekannya. 

Pria yang saat itu tengah beristirahat dari merawat tanaman kacangnya, mengaku awalnya warga berniat menanam padi pada musim kemarau ini. Namun karena kondisi air embung mulai menyusut, mereka terpaksa harus mengurungkan niatnya. 

Sekalipun demikian ada warga yang nekat menanam padi.

“Ya itu padinya kekurangan air,” ujarnya sambil menunjuk lokasi tanaman padi yang bedekatan dengan embung. 

Baca Juga :   Kakek Tewas di Terminal Tuban

Dirinya berharap embung ini tidak hanya mengandalkan air hujan, tapi setiap saat air bisa mengalir.

“Ya harapannya airnya lancar dan tanam tidak kekurangan air,” tutur pria berkulit legam itu. 

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Urusan Umum Desa Bonorejo, Parno membenarkan, kondisi keringnya embung yang dibangun tahun lalu itu karena kemarau panjang. 

“Ya mau gimana lagi sampai sekarang hujan belum turun juga,” ucapnya. 

Sebenarnya masyarakat sangat terbantu dengan adanya embung bantuan program corporate social responsibility (CSR) EMCL tahun 2017 tersebut.  Sebelum ada embung petani panen dua kali tapi harus bersusah payah menyedot air dari sungai.

“Setelah ada embung, petani mudah dapat air. Lahan pertanian yang dekat dengan embung bisa mengambil air dari situ,” kata dia.

Keberadaan embung ini bisa mengairi lahan pertanian hingga 65 hektar (ha). Bahkan jika ada airnya saat musim kemarau seperti ini, petani Bonorejo bisa panen padi tiga kali. 

“Sebenarnya sekarang waktunya padi menguning, tapi terancam karena kekurangan air. Tiga bulan lalu saat tanam air embung masih ada,” tutur pria berkumis ini. 

Baca Juga :   KAI Daop 8 Surabaya Menambah 6 KA Jarak Jauh Selama Nataru

Pembangunan embung tersebut masih belum sempurna. Belum dilengkapi pintu air. Selain itu, kedalaman embung dinilai kurang sehingga menyebabkan air cepat habis.

“Kedalamannya dulu sekira 2-3 meter,” ujarnya.

Saat ditanya soal anggaran dirinya juga mengaku tidak banyak mengetahui.

“Sekitar Rp200 sampai Rp300 juta. Lebih persisnya ke pak kades saja. Tapi sekarang pak Kades sedang tidak ada di tempat,” kata dia.‎ (ams) .

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *