SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Tiga hari setelah terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala, dan Mamuju, Sulawesi Tengah, memantik kepedulian sejumlah organisasi di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dengan cara menggelar aksi galang dana.
Di antara aksi dilakukan oleh Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (Ormek) Liga Mahasiswa Nasional Demokratik (LMND) pada Senin (1/10), dan sehari sebelumnya pada Minggu (30/9) Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Tuban juga melakukan penggalangan serupa.
“Yang terlibat 15 personil, untuk hari ini sampai pukul 17:00 WIB. Dilanjutkan besok aksi hari kedua,” ujar Ketua LMND EK Tuban, Rudik Hartono, kepada suarabanyuurip.com, disela-sela penggalangan dana di sekitar bundaran Patung Letda Soecipto Tuban.
Rudik biasa disapa menjelaskan, galang dana ini merupakan bentuk spontanitas dari mahasiswa atas musibah yang menimpa saudara di Sulteng. Melalui kepedulian dan doa dari Tuban, diharapkan korban bisa tenang di alamNYA. Begitupupa keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kesabaran.
Sebagai aktivis yang kerap mengawal isu sosial, Rudik mendorong kepada semua stakeholder di Bumi Wali bahu membahu menggalang bantuan untuk meringankan korban gempa dan tsunami Sulteng. Semakin cepat bantuan tersebut diberikan, tentu semakin cepat korban terbantu.
“Jangan ragu untuk mengulurkan tangan kita untuk mereka,” tegasnya.
Sementara, perwakilan PDNA Kabupaten Tuban, Kurnia, mengajak warga masyarakat untuk sesegera mungkin membantu saudara-saudara di Palu dan Donggala. Agar bisa meringankan penderitaan korban disana dengan aksi nyata.
“Salah satunya turun kejalan mengumpulkan rupiah untuk saudara kita korban gempa dan tsunami,” sambung perempuan ramah ini.
PDNA Tuban menggalang dana sehari sebelum LMND. Aksi hari pertama menurunkan enam personil. Sedangkan untuk galang dana selanjutnya masih dalam tahap pembahasan internal.
“Sementara ini dana yang terkumpul sebanyak Rp2.000.000,- dan sudah disalurkan melalui PW Nasiyatul A’isyiyah Sulawesi Barat,” terangnya.
Selain itu, pihaknya juga terenyuh ketika PDNA turun ke jalan ternyata ada bapak-bapak pengemis dan tukang becak juga ikut menyumbang korban yang terkena musibah disana.
Dalam keterangan resminya, Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan, korban terbanyak terdapat di Palu, yaitu mencapai 821 orang, sementara 11 orang lainnya merupakan korban di Donggala.
Korban meninggal, menurut keterangan resmi itu, disebabkan oleh dua hal yaitu tertimpa bangunan dan diterjang tsunami. Korban jiwa, mulai dimakamkan secara massal untuk menghindari timbulnya penyakit. Sebelum dimakamkan, BNPB telah melakukan proses identifikasi dan data korban disimpan di Polda Palu. (Aim)