SuaraBanyuurip.com -Â Â Ali ImronÂ
Tuban-Â Tokoh masyarakat Kecamatan Jenu, Soewarto dikabarkan mendapatkan undangan dari Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) di Jakarta untuk membicarakan Kilang Minyak (New Grass Root Refinery and Petrochemical/NGRR) Tuban, Jawa Timur. Undangan tersebut disampaikan Brigjen Syafiul melalui sambungan telepon, selepas tim Wantannas berkeliling lokasi kilang di Desa Remen dan Mentoso, Kecamatan Jenu pada 12 Oktober 2018 lalu.Â
“Saya sempat ditelepon Brigjen Syafiul untuk diajak menghadap Sekjen Wantannas untuk membicarakan proyek kilang minyak,†ujar Soewarto, kepadasuarabanyuurip.com, Minggu (21/10/2018).Â
Warto biasa disapa tak mengira jika sebanyak 300 warga dari Desa Wadung, Remen, Rawasan, Mentoso, dan Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, mengkhawatirkan keselamatannya. Warga meminta agar tetap gigih menolak proyek kilang minyak patungan Pertamina-Rosneft, dan tidak boleh pergi ke Jakarta untuk memenuhi undangan Wantannas. Â Â
“Kalau masyarakat berkehendak seperti itu mau bagaimana lagi,†terang pensiunan Jaksa di wilayah Kabupaten Tuban.
Ratusan masyarakat berbondong-bondong di kediaman Soewarto di Desa Sugihwaras, Jenu pada Sabtu (20/10) kemarin. Mereka datang ingin menanyakan hasil pertemuan dengan Wantannas di RM Putri Asih Jalan Soekarno-Hatta Tuban pekan lalu.
Salah satu warga Dusun Sumurpawon, Desa Remen, Wasri, meminta tokoh masyarakat Jenu untuk tetap mempertahankan penolakan rencana pembangunan kilang. Para petani maupun pemilik lahan enggan untuk pindah dari tempat tinggal mereka.
Alasannya, tanah pertanian di sini sangat produktif, dapat menghasilkan panen sebanyak tiga kali dalam setahun, bahkan ada bisa empat kali dalam setahun
“Kami tetap ingin mempertahankan tanah pertanian. ,†tegas perempuan berkulit sawo matang ini.
Di samping itu, masyarakat juga berkeluh kesah karema rata-rata mata pencaharian adalah sebagai petani, dan tidak punya keahlian lain selain bertani. Masyarakat yang dekat dengan terminal BBM, maupun kilang minyak juga mengeluhkan bau tidak sedap atau bau menyengat yang muncul setiap sore dari area itu.
Demikian juga masyarakat Wadung yang mengeluh bahwa pembangkit listrik menimbulkan polusi udara (debu-debu) dan tembok rumah mereka mulai menghitam. Karena itu warga berkesimpulan, apalagi jika di desanya di bangun kilang minyak.
“Apalagi Kilang minyak yang membutuhkan lahan pengembangan seluas 1.000 hektar, tentu adalah sebuah perusahaan raksasa,†imbuhnya.
Terkait undangan dari Wantannas, warga melarang tokoh masyarakatnya untuk menghadiri undangan ke Jakarta. Warga khawatir jika pertemuan di Jakarta yang dilakukan secara pribadi tersebut akan memunculkan kecurigaan.
Perlu diketahui, sebelumnya Brigjen Syafiul menjelaskan jika Kilang NGRR Tuban kedepan membutuhkan lahan 1.000 hektar untuk perluasan operasi. Lembaga pembantu presiden ini netral dan independen, artinya tak memihak siapapun.
“Segala aspirasi dari warga Jenu, dan pantauan di lokasi Kilang akan disampaikan ke pejabat pengambil keputusan,†sambungnya setelah berkeliling ke lokasi kilang.
Beredarnya kabar pemindahan lokasi Kilang NGRR Tuban ke Situbondo juga dibenarkan.Kendati demikian, di Situbondo juga berdekatan dengan pangkalan latihan militer gabungan TNI AD, AL, AU, sehingga juga mendapat penolakan. (aim)