Industri Migas Belum Berdampak Pada Pengangguran

Wakil Ketua Komisi C

SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia

Bojonegoro -  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupatan Bojonegoro, Jawa Timur, menyebut, jika keberadaan industri minyak dan gas bumi (Migas) di Bojonegoro belum memberikan dampak signifikan terhadap angka pengangguran yang setiap tahunnya mengalami kenaikan.

“Menurut saya, tidak berdampak sama sekali,” kata Wakil Ketua Komisi C, Abdullah Umar, kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (27/8/2018).

Hal itu dikarenakan, selama ada industri migas, sebagian besar perekrutan tenaga kerja yang dilakukan hanya tenaga kasar atau unskill saja. Sementara tenaga terampil atau skill jumlahnya sedikit, bahkan tidak ada sama sekali.

“Skill kebanyakan dari luar Bojonegoro,” kata Politisi asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Umar sangat menyayangkan kondisi seperti ini, karena tenaga unskill memiliki sifat sementara. Oleh karena itu, dibutuhkan peran dari Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) untuk menjadi benteng dalam masalah tenaga kerja yang menjadi momok.

“Harusnya, Disperinaker ini menjadi benteng dan mengakomodir semua kebutuhan kerja,” tandasnya.

Salah satunya dengan membuat perjanjian antara Pemkab dan perusahaan. Apa saja, kebutuhan di industri migas seharusnya bisa diakomodir dengan baik melalui pelatihan dan sertifikasi.

Baca Juga :   Buoy Akan Dipasang Setelah Izin Turun

“Jadi yang selama ini terjadi, Pemkab sendiri kurang maksimal dalam menjembatani masalah tenaga kerja,” kata bapak dua anak.

Saat ini, adanya proyek di Lapangan Jambaran-Tiung Biru (J-TB) dan Lapangan Kedung Keris, Blok Cepu, bisa menjadi atensi untuk mengutamakan skill daripada unskill.

“Jadi, harus ada perjanjian antara Disperinaker dan Perusahaan migas. Jangan asal rekrut saja,” tegasnya.

Salah satu warga Bojonegoro, Nanang (35), mengaku, kecewa saat melamar di salah satu perusahaan migas di Bojonegro melalui website yang diarahkan oleh Disperinaker.

“Tapi, belum ada panggilan atau tes dan sebagainya, sudah dinyatakan gugur,” keluhnya.

Bekal pengalaman di Semen Gresik 5 tahun, seharusnya menjadi pertimbangan tersendiri untuk syarat administrasi. Tapi, ternyata sudah dinyatakan tidak lolos tanpa ada pemberitahuan apa-apa.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja, Disperinaker, Joko Susanto, mengakui, keberadaan industri migas belum memberikan dampak terhadap pengurangan tenaga kerja selama ini.

“Sekarang, jumlah tenaga kerja ada sekitar 24 ribu lebih pengangguran di Bojonegoro,” tukas pria berkacamata minus ini.

Baca Juga :   Pemdes Ngunut Minta MCL Beri Kejelasan Ganti Rugi

Di katakan, baik proyek J-TB maupun Pipainisasi di Lapangan Kedung Keris, kebutuhan tenaga kerja sangat sedikit. Tidak bisa dibandingkan dengan proyek EPC di Blok Cepu 4 tahun yang lalu.

“Kami juga memfasilitasi kebutuhan tenaga kerja skill, dan mereka tetap diseleksi oleh masing-masing perusahaan,” tegas Joko.

Selama ini, Pemkab telah berupaya untuk menekan angka pengangguran diantaranya memberikan pelatihan keterampilan setiap tahunnya, menggelar job fair, dan memberi pelatihan dan sertifikasi migas bekerjasama dengan pihak ketiga.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *