SuaraBanyuurip.com – Ina Maghfiroh
Tuban- Sejak adanya Koperasi Gudang Garam yang berdiri sendiri bulan Agustus lalu, masyarakat Desa Pliwetan, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tidak kesulitan lagi untuk menyetorkan garam yang sudah siap panen. Di awal musim hujan ini, koperasi mematok harga Rp1.100/Kg garam.
“Koperasi ini namanya Tirto Samudro. Ada sekira 10 penempatan koperasi yang berdiri sendiri,” ungkap salah satu pengurus koperasi, Efendi, ketika ditemui suarabanyuurip.com, Senin (29/10/2018).
Sudah menjadi hukum alam setiap musim kemarau selalu di simpan di gudang, karena secara otomatis penyimpanannya dijadikan kebutuhan saat musim hujan tiba-tiba datang.
Rata-rata pertambakan yang sudah menjual di gudang koperasi bervariasi, sekira 15 ton, 20 ton dan hampir 30 ton. Sesuai kebutuhan masing-masing tambak satu dengan yang lain berbeda. Kalau tambaknya kecil dikisaran 15 ton.
Lain halnya saat panen satu Minggu sekali, hasil panen di musim kemarau tergantung masing-masing letaknya. Misalkan panjang 30 meter dan lebar delapan meter bisa satu ton setengah sekali panen.
Harga pada musim kemarau di tambak mencapai Rp1.000. Harga tersebut sudah dikatakan kualitas baik menggunakan terpal. Berbeda dengan harga yang tidak memakai terpal kurang lebih Rp750.
Perbandingan antara harga dan produksi saat ini sudah terbilang sangat diuntungkan. Dulu harga garam sekira Rp200, sekarang sudah lebih. Dengan adanya kenaikan harga yang sedemikian dapat dikatakan menguntungkan para petani khususnya garam.
“Musim kemarau ya lancar-lancar saja, mengingat terkena matahari yang begitu panasnya jadi airnya cepat kental,” terang salah satu pengurus tambak, Sukamat.
Pria asal Desa Pliwetan itu menjelaskan, jika musim hujan tiba sudah tidak bisa lagi panen. Berbeda ketika nanti ada musim kemarau lagi masih ada kemungkinan untuk panen.
Salah satu pengurus koperasi asal Desa Pliwetan sendiri menjelaskan, bahwasannya kalau ingin mengirim garam ke pabrik minimal harus pakai CV atau koperasi. Jadi secara paguyuban di sekitar jalur distribusi pipa minyak Blok Cepu ini membentuk dengan adanya koperasi.
Selain itu ia mengeluhkan setahun lalu ketika ingin menjadi salah satu anggota koperasi garam di Desa Jenu tidak diperbolehkan.
Padahal ada salah satu orang perikanan mestinya bisa masuk, karena barang yang dikirim juga dari Desa Pliwetan.
Sementara, Data Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Tuban, selama semester satu 2017 produksi garam Tuban baru mencapai 100 ton. Sedangkan target tahunan mencapai 31 ribu ton garam.
“Kemarau basah tahun membuat petambak garam gagal panen dan memicu kelangkaan. Adapun tahun ini kami belum bisa memberi data produksi garam,” pungkas Kabid Perikanan Budidaya DPP Tuban, Umi Khulsum. (Ina)