SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban-Â Masyarakat yang bermukim di sekitar Sungai Bengawan Solo maupun anaknya Kali Kening perlu mewaspadai kondisi tanggul yang kritis. Ada beberapa titik tanggul di Kecamatan Widang, Parengan, Singgahan, dan Bangilan yang rawan longsor dan muncul rembesan air.
“Di Kecamatan Widang ada tiga titik meliputi Desa Simorejo, Kedungharjo, dan Tegalrejo,” ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiono, ketika dikonfirmasi di kantornya Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo Tuban, Senin (29/10/2018).
Mantan Camat Widang ini, menegaskan, adapun tanggul di tepi Kali Kening yang paling kritis yaitu di Kecamatan Bangilan. Dimana sampai sekarang ada rumah warga yang nyaris ambruk, karena tanggulnya terkikis air.
Adapun kewenangan Kali Kening merupakan urusan BBWS Bengawan Solo. Berbeda jika itu urusan Pemkab, pasti dengan sigap diatasi menggunakan Dana Tak Terduga (DTT). Begitupula tanggul Sungai Bengawan Solo, BPBD sifatnya melaporkan dan jika ada rembesan atau kritis BBWS dan PSDA Provinsi Jatim yang berwenang menangani.
“Tak ada tanggul yang kritis. Mudah-mudahan aman. Kita akan mengecek dulu kekuatannya. Yang berhak menyebut tanggul kritis adalah BBWS Bengawan Solo,” beber mantan Camat Grabagan ini.
Pria yang bersuara emas ini, menambahkan, ada pula yang menjadi perhatiannya yaitu Avour Kuwu di Kecamatan Plumpang. Apabila tanggulnya kurang kuat, tentu di musim penghujan akan berdampak pada sektor pertanian setempat.
Apabila sudah ada surat resmi dari BMKG soal prakiraan musim penghujan, BPBD akan segera melakukan mitigasi, menyusun rencana kontingensi, dan gladi lapangan. Disamping itu, akan mengecek tanggul mulai Kecamatan Soko sampai Widang.
“Sepekan setelah BMKG mengeluarkan rilis musim hujan, BPBD akan lakukan patroli untuk mengecek tanggul Sungai Bengawan Solo,” janjinya.
Mitigasi sendiri ada yang namanya struktural, yakni berkoordinasi dengan BBWS selaku yang berwenang. Dari situ dilanjutkan mitigasi fungsional juga BBWS yang memperbaiki. Jika masih ada rembesan juga BBWS kembali yang memperbaiki.
“Kalau tanggul bocor, sudah tidak bisa dihentikan dan air akan mengalir terus,” terang pria yang hobi olahraga golf ini.
Terpisah, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III BMKG Tuban, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan, sesuai dengan prediksi BMKG bahwa musin hujan untuk wilayah Tuban masuk pada Bulan November dasarian dua.
Sedangkan hujan yang terjadi di wilayah Tuban adalah disebabkan kondisi dinamis Amatmosfer yang mana diwilayah Jatim atau Tuban ada konvergensi (pertemuan) angin yang menyebabkan pertumbuhan awan hujan.
Disisi lain SST (Suhu Muka Laut) masih hangat menyebabkan banyak uap air. Jadi musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan. Ada hujan tapi intensitasnya kecil < 50 mm/dasarian.
“Yang perlu diwaspadai adalah muncul cuaca ekstrem,” pungkasnya. (Aim)