Biaya Produksi Lapangan Banyuurip Terendah 2,1 Dolar per Barel

Dave A. Seta EMCL

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Yogyakarta- ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mampu menekan biaya produksi di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, per barelnya hingga 2,1 dolar. Biaya ini diklaim lebih rendah, karena rata-rata industri Migas lainnya masih mengeluarkan 15 dolar per barelnya.

“Kita yang paling rendah biaya produksi per barel,” ujar Field External Affairs Manager EMCL, Dave A. Seta, disela-sela pelatihan menulis feature/story telling & digital marketing, di Disanter Oasis Center Yogyakarta, Senin (12/11/2018).

Dave sapaan akrabnya, menjelaskan, penting bagi EMCL untuk beroperasi seefesien mungkin. Semakin rendah biayanya, negara semakin diuntungkan.

Salah satu hal yang diterapkan adalah produktifitas pegawai. Perbandingannya 1:5 orang. Artinya EMCL tidak masalah menggaji satu orang lebih mahal sedikit, tapi kerjanya setara dengan lima orang.

Mulai hari ini produksi di Lapangan Banyuurip lebih dari 210 ribu barel per hari (Bph). Ada beberapa inisiatif supaya produksi naik. Sementara fokus di Kedung Keris, yang sebenarnya reservoarnya tak sebesar di Banyuurip.

Adapun reservoar di Lapangan Banyuurip sebesar 729 juta barel. Sedikitnya ada 45 sumur rinciannya 30 sumur produksi dan sisanya injeksi. Di Lapangan Banyuurip yang sudah diproduksi 263 juta barel per bulan Agustus 2018.

Baca Juga :   KBLI Kilang Mini LNG Humpuss di Sumengko Bojonegoro, Kades: Belum Ada Konfirmasi

“Di Kedung Keris reservoarnya 20 juta Barel,” beber pria ramah ini.

Sekarang sudah ditunjuk kontraktor pemasangan pipa. Ada tanah yang harus dibebaskan, untuk pemasangan pipa dari Kedung Keris menuju Lapangan Banyuurip.

Adapun pipa Kedung Keris sudah siap. 2019 akhir ditarget bisa diproduksi. Investasinya mencapai 100 juta dolar, termasuk pengeboran dan pembebasan tanah. Adapun pembebasan lahan Kedung Keris sedang proses.

Lapangan Banyuurip saat ini menjadi penyumbang 30% produksi minyak Nasional. Sehari saja Banyuurip libur, akan berpengaruh pada kondisi nasional. Produksi nasional hari ini hanya 780 ribu Bph. Sedangkan kebutuhan minyak terus naik 1,6 juta Bph. Solusinya harus impor minyak.

Dave menjelaskan, kalau dimaksimalkan produksi di Lapangan Banyuurip mencapai 220 ribu Bph. Jika sudah ditambah produksi Kedung Keris sebesar 10 ribu Bph, artinya sudah top produksi.

Besarnya produksi tersebut sudah maksimal sesuai kapasitas mesin produksinya. Rilis sebelumnya kapasitas mesin memang hanya 185 ribu bph. Kenapa mesin EMCL bisa produksi sebesar itu, karena sudah dikoordinasikan dengan pemerintah.

Baca Juga :   Ancam Blokir Akses Blok Tuban

Terkait dampak dan resiko sudah disepakati, bahwa tidak ada dampak tambahan dengan peningkatan produksi. Amdal revisi awal tahun 2018 sudah keluar, dan menyakinkan ke pemerintah tak ada dampak. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *