SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban hari Jumat (23/11/2018) kemarin menerima kunjungan Satpol PP dan BPBD Magetan dalam rangka studi banding tentang bantuan hibah mobil pemadam kebakaran (Damkar) dari Jepang. Ada beberapa poin yang dibahas oleh ketiga instansi tersebut, salah satunya kiat-kiat mendapatkan bantuan mobil pemadam dari negeri Sakura atau matahari terbit.
“Melalui studi banding ini kita bisa saling belajar,” ujar Kalaksa BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepada suarabanyuurip.com.
Mantan Camat Widang menjelaskan, dalam pertemuan yang berpusat di kantor BPBD di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo Tuban banyak hal yang dibahas. Mulai dari strategi dan metode penanganan bencana, membahas SOP, dan kiat-kiat kerjasama dengan perusahaan instansi dan komunitas lain.
Kedua kabupaten juga membahas, upaya memaksimalkan peran TRC dan pasukan Damkar, dan yang paling utama kiat-kiat mendapatkan bantuan.
Di jelaskan Kabupaten Tuban 80 persen bencana yang melanda dikategorikan Hidrometeorologi. Penghitungannya berdasarkan pantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2013-2015. Bencana hidrometeorologi faktornya karena air dan cuaca.
Data BNPB juga menyatakan Tuban berada di urutan 145 dari 496 kabupaten/kota se-Indonesia yang memiliki resiko bencana tinggi. Nilai indeks risiko bencana di Kabupaten Tuban sejak tahun 2013 mencapai skor 175. Angka tersebut menjadikan Tuban masuk sebagai kelas risiko bencana tinggi.
Sedangkan beberapa potensi ancaman yang kerap melanda Tuban, baik yang bersifat alam ataupun non alam serupa banjir, kekeringan, tanah longsor, cuaca dan gelombang ekstrem. Selain itu, Tuban juga dilalui Sungai Bengawan Solo yang merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa.
Sejak tahun 2014, BPBD Tuban telah melatih kurang lebih 500-an relawan berasal dari komunitas masyarakat, Banser, pramuka, dan relawan dari 25 Desa Tanggung Bencana (Destana). Para relawan ini dibekali beberapa materi dan praktik, diantaranya vertical rescue, water rescue, dan Damkar.
“Peningkatan kapasitas sangat penting, supaya semua elemen sadar potensi bencana dan tahu apa yang harus dilakukan untuk antisipasi,” imbuh Joko.
Sejak tahun 2014 silam, pelaku industri di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, juga sudah ada yang melakukan mitigasi bencana. Perusahaan itu adalah KKKS Migas Blok Tuban, dan Kilang PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI). Mereka melatih warga sekitar dalam menghadapi bencana kegagalan teknologi industri.
BPBD juga menjadi penghubung kerawanan di industri terkait. Agar masyarakat semakin tahu resiko industri, sehingga semakin mudah meminimalisir kerugiannya.
Sebagai contoh KKKS Lapangan Mudi melatih warga Desa Rahayu, Kecamatan Soko, dan Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel. Hasil komunikasi BPBD dengan warga, peserta pelatihan merasa senang karena ada informasi penting terkait keberadaan industri itu sendiri.
“Jika mitigasi ini dilakukan tentu warga sekitar industri akan merasa terlindungi,†tambahnya.
Sebelum mobil Damkar Jepang berteknologi hydran datang pada Jumat (8/12/2017) lalu, BPBD Tuban telah menemui Kementerian Perindustrian Jepang di Jakarta. Waktu itu, salah satu hal yang dibicarakan adalah mobil Damkar berteknologi hydran.
Melalui komunikasi langsung dengan Mr. Kagawa, dalam jangka waktu enam bulan hibah damkar ini akhirnya datang. Dengan teknologi pada mobil ini, BPBD tidak lagi khawatir akan terguling dalam perjalanan menuju titik api.
Kadinas Damkar Magetan, Chanif, mengucapkan terimakasih karena banyak ilmu dan bisa saling tukar pengalaman. Melalui studi banding ini, diharapkan penanganan bencana di Magetan lebih maksimal.
“Semoga juga mendapat hibah mobil Damkar dari Jepang,” sambungnya.
Usai berbincang, rombongan berkesempatan melihat langsung pengoperasian Damkar hibah Jepang. Mobil Damkar Jepang berwarna merah tersebut lebih canggih dan cepat.
Kendaraan canggih tersebut didominasi hydran. Daya semprotnya sampai 12 bar, lebih lincah dan lebih safety. Dengan keunggulan tersebut, mobil Damkar Jepang ini mampu memadamkan api dalam skala besar.(Aim)