SuaraBanyuurip.com – Ririn WediaÂ
Bojonegoro – Datangnya musim hujan sejak akhir bulan Oktober lalu menjadikan berkah tersendiri bagi sebagian warga sekitar lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Pasalnya warga ramai-ramai berburu “enthung” atau ungker sejenis kepompong ulat yang memakan daun jati. Mereka mencari enthung di area pohon jati desa maupun pohon jati milik Perhutani sekitar Lapangan Gas J-TB.
Pantauan di lapangan menyebut, dengan telaten pencari enthung mengumpulkan satu per satu daun jati kering yang berserakan di bawah pohon jati. Kemudian kempompong diambili satu per satu dikumpulkan didaun jati sebelum dimasukan ke dalam kerondo (wadah dari daun jati-red).
Seorang pencari enthung, Jawadi, menuturkan, mulai mencari enthung sejak seminggu lalu, dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
“Saya cari enthung tidak sehari penuh, cuman sebentar. Setelah dapat secukupnya untuk lauk makan langsung pulang,” kata Jawadi, saat ditemui Suarabanyuurip.com di hutan jati Desa Bandungrejo, Minggu (16/12/2018).
Bagi Jawadi, musim enthung menjadi berkah tersendiri. Sebab, bisa untuk pengganti lauk makanan yang dibeli setiap harinya.
“Lumayan buat lauk. Lagian gratis gak perlu beli asal mau mencari,†ujar warga Desa Bandungrejo ini sembari asyik menjumputi enthung dibalik daun jati yang jatuh di tanah.
Ditambahkan, musim enthung tidak setiap bulannya ada melainkan setahun sekali. Terutama diawal musim penghujan. Jika curah hujan terus menerus enthung pun juga hilang karena daun jati kembali menghijau, kemudian enthung membusuk dan berubah menjadi kaper atau kupu,” imbuhnya.
Pencari enthung lain, Sumiatun mengaku, tidak semua orang suka dengan enthung. Karena bagi yang tidak terbiasa makan enthung bisa menyebabkan alergi gatal – gatal dan bentol di sekujur tubuh. Tapi bagi yang sudah biasa memakan enthung rasanya sangat gurih. Dengan cara digoreng, ditumis, dan dibuat campuran rempeyek dan lain sebagainya.
“Selain buat lauk, juga saya jual dan harga sekilonya Rp60 ribu. Hasil setiap hari tidak mesti, tapi rata-rata lebih dari dua kilo,” ujarnya.
Petani berusia 45 tahun ini menambahkan, saat ini enthung sudah mulai habis. Selain banyak warga yang mencarinya juga sudah mulai berubah menjadi kaper.
“Saya tidak malu menjual enthung, penting tidak merugikan orang lain. Justru menjadi berkah karena dapat uang dari jualan enthung untuk kebutuhan keluarga,” pungkasnya. (rien)