44 Rumah Warga Nikmati Gas Olahan Sampah TPA Banjarsari

pipa gas sampah TPA Banjarsari

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Tumpukan sampah dari berbagai jenis tampak menggunung di Tempat Pembungan Akhir (TPA) Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Terlihat mobil truk berwarna kuning hilir mudik mengangkut sampah. Di salah satu sudut TPA terlihat puluhan pipa besar menancap di atas tanah berwarna kuning. Ada juga pipa kecil yang melintas ke berbagai sudut.

Pipa-pipa itu digunakan untuk memproses energi gas metana dan menjadi sumber biogas bagi warga disekitar TPA.

“Penyaluran gas dilakukan di 44 rumah warga di sekitar TPA, tepatnya warga RT 12 Dusun Kalisari, Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk yang berjarak 1.5 kilometer,” kata Kepala Tekhnisi Pengelola Biogas TPA Banjarsari, Mualim (35), kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (05/02/2019).

Jaringan pipa yang digunakan untuk menyalurkan gas metana ke rumah warga itu berukuran 1/2 inci. Sedangkan pipa yang ditancapkan di titik tumpukan sampah berukuran 4 inci.

Ada 25 pipa yang ditancapkan di titik pembuatan gas metana dengan kedalaman enam meter dari atas permukaan. Pipa-pipa berisi uap gas itu kemudian disedot dengan mesin blower. Selanjutnya baru disalurkan ke rumah-rumah warga.

Sementara kedalam tumpukan sampah yang memunculkan gas metana adalah  12 meter. Pembuatan biogas itu cukup mudah, hanya dengan menumpuk sampah basah kemudian ditutup dengan tanah, dalam beberapa bulan sudah akan mengeluarkan gas metana.

Baca Juga :   40% Tagihan Proyek Blok Cepu Belum Cair

“Kalau musim kemarau saja perlu melakukan pembasahan dengan air lindi. Air lindi juga berasal dari olahan sampah yang kita proses sendiri,” papar Mualim.

Gas dari sampah itu diberikan kepada warga secara cuma-cuma. 44 kepala rumah tangga tidak dipungut biaya sepeserpun oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro yang membawahi TPA Banjarsari. Pengelolaan sampah menjadi energi itu sudah dilakukan sejak 2007. Dari tahun ke tahun pengelolaan sampah terus dikembangkan, hingga saat ini tanah seluas dua hektar telah digunakan untuk proses pembuatan biogas.

“Dulu masih kecil gas yang dihasilkan dari proses ini, Tapi sekarang sudah 44 rumah tangga kita aliri gas secara gratis,” ujarnya.

Pemanfaatan sampah menjadi biogas itu, untuk mengurangi bau sampah di TPA terlebih memasuki musim penghujan. Dengan pengelolaan yang baik, warga tidak lagi mencium bau busuk dari sampah yang setiap hari selalu ada.

“Sampahnya dari berbagai macam, mulai sampah organik atau dedaunan hingga sampah rumah tangga,” terang bapak dua anak.

Baca Juga :   Warga Tak Ada Lapor di Kelurahan Karangboyo

Kedepan, sampah di TPA Banjarsari akan terus dikelola dan dikembangkan. Jika saat ini baru 44 rumah warga yang dialiri jaringan gas metana, akhir tahun 2019 ditarget sebanyak 70 rumah warga yang akan menikmati gas olahan dari sampah TPA.

“Sementara ini masih terkendala pengadaan pipa untuk jaringan ke rumah-rumah warga, tapi secepatnya akan dianggarkan oleh dinas,” kata pria berkumis lebat.

Selain mengelola sampah menjadi biogas, DLH Bojonegoro juga mengelola sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, minyak tanah dan bensin (premium). Hanya saja kualitas BBM hasil olahan di TPA setempat masih rendah. Sehingga hanya digunakan untuk operasional kendaraan dan mesin pribadi.

“Kita gunakan untuk bahan bakar diesel pencacah sampah serta sepeda motor operasional pegawai TPA. Tidak kita jual belikan karena kualitasnya masih rendah,” imbuhnya.

Kepala DLH Bojonegoro, Nurul Azizah, menambahkan, keberhasilan mengelola sampah menjadi energi maupun pupuk organik tersebut telah mendapat perhargaan dari Kantor Pemberdayaan Aparatur Negara pada 2016 lalu.

“TPA Banjarsari sejak 2016 masuk 99 TPA terbaik se-Indonesia. Kami berharap kedepan akan lebih baik lagi,” pungkasnya.(rien) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *