Jargas Rumah Tangga Lebih Hemat Dibanding LPG

Jargas Lebih Hemat Dibanding LPG

SuaraBanyuurip.com - Pemerintah terus berupaya menambah infrastruktur jaringan gas bumi untuk rumah tangga (jargas) di daerah yang dekat dengan sumber gas atau memiliki infrastruktur gas bumi. Penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar untuk memasak memberikan penghematan yang cukup besar bagi rumah tangga yaitu sekitar Rp 30.000  per bulan. 

“Oleh karena itu kita dorong  pembangunan jargas karena bermanfaat bagi masyarakat jauh lebih hemat dibandingkan penggunaan LPG,” ujar Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar dilansir laman resmi Ditjenmigas.

Berdasarkan data, kebutuhan LPG  subsidi dengan tabung ukuran 3 kg secara nasional mencapai lebih dari 6,5 juta ton per tahun. Namun, produksi gas LPG 3 kg secara nasional baru mampu mencapai 2 juta hingga 2,5 juta ton. Sehingga sebanyak 4,5 juta ton LPG  harus diimpor. 

Apabila tiap rumah tangga menggunakan 3 – 4 tabung, sedikitnya subsidi yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 60.000 – Rp 80.000 per rumah tangga per bulan. Dengan menggunakan jargas, rumah tangga bisa menghemat sekitar Rp 30.000 per bulan.

Baca Juga :   Harga Minyak Mentah Indonesia September Anjlok ke Level US$ 37,43 per Barel

“Dengan menggunakan gas bumi, dapat menekan impor LPG. Kalau kita lihat, 1 mmscfd dapat mengaliri sekitar 35.000 hingga 45.000 sambungan rumah. Lebih hemat dibandingkan impor LPG,” kata Arcandra.

Pembangunan jargas merupakan program berkelanjutan Pemerintah yang telah dilaksanakan sejak tahun 2009 yang bertujuan memberikan bahan bakar yang murah, bersih, aman dan ramah lingkungan kepada masyarakat.

Hingga tahun 2018, jumlah sambungan rumah (SR) yang dibangun mencapai 325.773 SR di 16 provinsi yang tersebar di 40 kabupaten/kota.  Untuk tahun 2019, direncanakan sebanyak 78.216 SR jargas di 18 lokasi.

Namun dari 18 lokasi tersebut tidak mencakup Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Padahal di wilayah tersebut terdapat Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) yang dikelola Pertamina EP Cepu. 

Cadangan gas J-TB sebanyam 2,5 triliun kaki kubik (TFC) yang akan diproduksi selama 25 tahun. Awalnya, proyek J-TB dirancang menghasilkan penjualan gas (sales gas) sebesar 172 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (Million Standard Cubic Feet per Day/ MMSCFD). Setelah dilakukan optimasi engineering dapat menghasilkan sales gas (gas siap jual) sebesar 192 MMSCFD atau ada peningkatan 20 MMSCFD.

Baca Juga :   Warga Ngampel Minta Flaring Pad A Dimatikan

Kepala Bagian Sumber Daya Alam Bojonegoro, Darmawan menyatakan Kementerian ESDM sebelumnya telah mengalokasikan 4.000 jaringan rumah tangga. Hanya saja belum diketahui kapan jaringan gas rumah tangga itu dibangun.

“Mungkin menunggu gas J-TB diproduksi,” ucapnya kepada suarabanyuurip.com.

Darmawan menambahkan jika pihaknya juga akan mengajukan tambahan alokasi jargas untuk warga ring satu Lapangan Gas J-TB.

“Ini sesuai instruksi ibu Bupati Anna,” pungkasnya. (red)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *