SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Desa sangat berpeluang menjadi ketahanan pangan nasional. Dengan catatan, pemerintah desa memprioritaskan pertanian dalam rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDes).
Demikian disampaikan Sosiolog Univrsitas Gadjah Mada (UGM) dan Satgas Dana Desa, Arie Sudjto saat menjadi nara sumber dalam sarasehan 12 tahun Sinau Bareng Ademos di Pendapa Pemkab Bojonegoro, Jumat (15/3/2019).
Menurut Sudjito, sejak berlakunya Undang-undang Desa No 6 tahun 2014, desa memiliki kewenangan luar biasa untuk mengelola potensi desanya. Apalagi di dukung dengan dana desa (DD) yang digelontor pemerintah pusat.
“Ini sebagai bentuk komitmen politik untuk memberdayakan desa. Desa sekarang menjadi subjek pembangunan,” tegas pria yang ikut mencentuskan UU Desa itu.
Untuk mewujudkan desa sebagai pilar ketahanan pangan, lanjut Sudjito, pemerintah desa harus memprioritaskan pertanian dalam RPJMDes. Jika perlu dibuatkan peraturan desa (Perdes) untuk menyelamatakan lahan produktif dari alih fungsi lahan untuk pembangunan. Sehingga lahan pertanian dapat dimanfatkan secara maksimal.Â
“Dengan begitu desa bisa menghidupi dirinya sendiri, mensubsidi desa lain, bahkan menjadi ketahanan pangan nasional,” tandasnya.Â
Upaya mewujudkan desa sebagai pilar ketahanan pangan telah dimulai asosiasi demokrasi untuk kesejahteraan masyarakat (Ademos) selama 12 tahun. Yakni melalui gerakan sinau bareng yang dipusatkan di Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo.Â
Sinau Bareng yang dilkasnakan Ademos merupakan sarana transformasi ilmu. Masyarakat diajari cara bertani, beternak, dan mengembangkan UMKM.
Di bidang peternakan, sinau bareng berkolaborasi dengan kelompok tani Ustan Mandiri mengelola peternakan sebagai percontohan. Saat ini ada 135 sapi yang dikelola.Â
Kemudian, budidaya lele sistim biovlog yang dikolaborasikan dengan tanaman. Budi daya ini akan dikembangkan di desa-desa di wilayah barat Bojonegoro.Â
Sinau bareng juga memberikan pendampingan dan pelatihan bagi pelaku UMKM untuk memanfaatkan potensi yang ada di desa. Salah satunya pisang. Produksi pisang selama ini dijual ke luar kota.Â
Pisang tersebut diolah menjadi keripik. Produk bernama Bojoneegoro Food Mister Bonano itu sekarang ini telah masuk di 100 outlet di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Â
“Sehingga ada nilai tambah ekonomi yang diterima masyarakat,” tegas Ketua Ademos, M Kundori.Â
Pemberdayaan UMKM ini dapat meningkatkan potensi pangan di Bojonegoro. Apalagi mayoritas masyarakat Bojonegoro adalah petani. Oleh karena itu diperlukan regulasi agar produk UMKM masyarakat lokal bisa masuk di pertokoan modern yang menjamur di bumi Angling Dharma-sebutan lain Bojonegoro.
“Kedepan kita akan buat regulasi yang mewajibkan toko modern menerima produk UMKM Bojonegoro jika izinya mau diperpanjang,” tandas Wakil Bupati Bojonegoro, Budi Irawanto.(suko)