SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Bojonegoro Institute (BI) menyebutkan, ruang publik diindikasi menjadi pengaruh terbesar terhadap kasus bunuh diri.Â
“Sehingga, penyediaan ruang publik yang layak ini tidak bisa dianggap sebagai hal yang biasa,” ujar Direktur BI, AW Syaiful Huda, kepada suarabanyuurip.com, Senin (24/6/2019).
Pihaknya menganggap jika penyediaan ruang publik yang layak bagi masyarakat ini berpengaruh besar terhadap psikologi masyarakat.
“Jika ruang publik yang menghargai sensitif gender ini tidak ada, maka efeknya juga akan berpengaruh besar terhadap angka bunuh diri,†tegas Awe, panggilan akrabnya.Â
Ruang publik yang layak terhadap sensitif gender ini harus menjadi komitmen dan keberpihakaan pada kelompok-kelompok masyarakat yang termarginalkan. Yakni seseorang atau sekelompok masyarakat yang sebagian atau sepenuhnya terpinggirkan dari akses terhadap sistem sosial, ekonomi dan budaya yang menjadi kunci dalam integrasi di dalam masyarakat secara luas.
Mereka yang memenuhi kategori masyarakat marginal, diantaranya fakir-miskin, pengangguran, perempuan, lansia, disabilitas serta semua pihak yang masuk kategori marginal dan didiskriminasi.
“Mereka tidak memperoleh pemenuhan haknya sebagai warga negara, dan terputus dari relasi sosial,” tegas Awe.
Menyadari meningkatnya kasus bunuh diri yang ada di Bojonegoro tahun 2018 ini, Dinas Sosial Pemkab Bojonegoro mulai bertindak untuk melakukan pemetaan studi kasus bunuh diri. Pada 2019 ini, warga yang sudah lanjut usia terlantar akan mendapat program asistensi bantuan tunai sebesar Rp1,5 juta bagi 2.000 orang penerima.
Data di Dinas Sosial, angka bunuh diri sesuai klasifikasi usia pada tahun 2018 banyak dilakukan oleh lanjut usia. Kelompok usia antara 51-85 tahun sebanyak 25 kasus. Kemudian usia antara 31-50 tahun sebanyak 8 kasus. Dan kelompok usia 17-30 tahun sebanyak 2 kasus. Lansia yang melakukan bunuh diri ini, sebagian besar menurut keluarga yang ditinggalkan karena mengalami sakit menahun.Â
“Mungkin karena tidak ada yang bisa diajak bicara, sehingga harus ada ruang terbuka untuk lansia,†ujar Kepala Dinas Sosial Bojonegoro, Helmy Elisabeth menambahkan.Â
Selain itu, pada tahun 2019 pihaknya akan menghidupkan kembali Karang Werda yang ada di desa. Karang Werda ini sebagai wadah perkumpulan bagi para lansia. Karang werda ini diharapkan bisa melakukan kunjungan dan memperhatikan ke lansia baik yang masih sehat maupun yang sedang sakit.
“Dinsos melakukan sinergitas dengan Gerontologi untuk memberi penguatan kepada lansia dan mengimbau kepada desa untuk memberi wadah berkumpulnya lansia,†pungkasnya.(rien)