Ansor Gayam Minta Kontraktor JTB Terbuka Soal Peluang Kerja

Ansor Gayam Minta Kontraktor JTB Terbuka Soal Peluang Kerja

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Menyikapi dinamika di Lapangan  Gas Jambaran – Tiung Biru (JTB) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sekarang ini, pengurus Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Gayam meminta kepada kontraktor utama, PT Rekayasa Industri (Rekind) terbuka tentang keterlibatan tenaga kerja lokal.  

Ketua PAC GP Ansor Gayam, Imam Hambali menyampaikan, adanya proyek raksasa di JTB tentu membawa dampak besar bagi masyarakat sekitar. Baik dari adanya mobilitas kendaraan, polusi udara, ketimpangan sosial maupun dampak buruk lainya.

Sehingga harus disikapi betul oleh perusahaan yang terlibat langsung di dalamnya. Karena, jika cara menyikapinya tidak tepat tentu akan memiliki runtutan dampak buruk lainya secara jangka panjang.

“Apa yang dirasakan masyarakat sekitar lapangan migas, harus berbanding lurus dengan kesempatan dan peluang kerja atas adanya kegiatan industri tersebut,” tegasnya kepada suarabanyuurip.com, Senin (23/9/2019).

Menurut Hambali, panggilan akrabnya, jika keterlibatan tenaga kerja dan peluang masyarakat rendah, tentu akan menjadi bom waktu bagi perusahaan. Seperti unjuk rasa, petisi atas ketidak perayaan warga maupun bentuk protes lainya.

Baca Juga :   Bertekat Menjadi Percontohan

“Jika tidak merespon dengan tepat, jelas efeknya bagi kelancaran proyek nasional itu sendiri,” lanjutnya.

Hambali mengaku pernah melakukan konfirmasi ke salah satu pemerintah desa tentang transparansi tenaga kerja yang terlibat di proyek Gas JTB. Hasilnya, ternyata juga masih sangat rendah. Bahkan pemerintah desa tidak diberi laporan terukur atas klaim perusahaan yang mengaku melibatkan tenaga lokal secara maksimal.

“Coba saja tanya ke Kepala Desa di wilayah Gayam, apa pernah mendapatkan laporan rinci tentang keterlibatan warganya,” tambahnya.

Ia berharap, ada ruang untuk mengakomodir kepentingan tenaga kerja dan peluang usaha bagi warga lokal ring 1 dengan PT Rekind maupun kontraktor lainya. Sehingga cita – cita untuk membangun sinergitas antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat bisa terealisasi dengan baik.

“Warga lokal yang terdampak langsung harus mendapatkan prioritas dalam hal keterlibatan tenaga kerja, sebagaimana nawa cita Perda Konten Lokal No. 23 Tahun 2011,” pungkasnya.

Site Manager PT Rekind, Zainal Arifin menyatakan, telah maksimalkan keterlibatan warga lokal di proyek gas JTB. Hingga Agustus 2019 lalu, jumlah naker lokal yang terlibat sebanyak 1.786 orang, baik untuk tenaga skill, semi skill dan unskill.

Baca Juga :   Komisi D Minta PEPC Koordinasi Pemanfaatan Jalan

Zainal menegaskan, memiliki data lengkap semua tenaga kerja by name by addres sesuai dengan nomor induk kependudukan (NIK).

“Data itu sebagaimana yangg kami kirimkan ke Pak Agus Supriyanto, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Bojonegoro sesuai arahan dari Ibu Bupati,” tandasnya.

Selain memaksimalkan naker lokal, lanjut Zainal, sapaan akrabnya, juga telah melibatkan 153 vendor lokal, baik PT maupun CV. Mereka adalah mitra dari 16 perusahaan yang digandeng Rekind.

Zainal menjelaskan, salah satu syarat agar vendor lokal bisa mengikuti tender dan menjadi mainkon di proyek Gas JTB harus memiliki Approved Manufacturer List atau AML. Syarat ini merupakan Pedoman Tata Kerja Nomor 007 Buku Kedua Revisi 04 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa (PTK007 Revisi 04). 

“Namun demikian, bagi perusahaan luar daerah kita wajibkan menggandeng vendor lokal. Ini sebagai bentuk memaksimalkan dan memberdayakan perusahaan lokal,” tegasnya. (rien)

(rien).

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *