Biogas Desa Kentong Gantikan Elpiji

Yulianto pemanfaat biogas kentong

SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno

Blora – Energi alternatif yang dihasilkan reaktor biogas, dirasakan manfaatnya oleh warga Desa Kentong Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Jawa Tengah. Sebulan terakhir, warga setempat bisa menghemat untuk sekadar kebutuhan memasak. Terutama untuk membeli gas elpiji.

Berbahan air limbah tahu dan kotoran sapi, mampu menghasilkan gas untuk memenuhi kebutuhan memasak hingga tujuh rumah tangga. Usai dimanfaatkan, sisa limbah cair bisa dimanfaatkan untuk pupuk.

Reaktor biogas dari program pengabdian masyarakat Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas, ditempatkan di lahan milik Tasripah (56) warga desa setempat. Tasripah adalah perajin tahu yang merupakan aktivitas turun temurun dari orang tuanya dahulu hingga saat ini masih dilestarikan.

Saat suarabanyuurip.com datang ke rumahnya, ditemui oleh Yulianto (30) anak Tasripah. Keluarga mengaku senang dan bersyukur mendapat reaktor biogas dari PEM Akamigas.

Yulianto, menyampaikan, bahwa reaktor biogas tersebut sudah sebulan ini dimanfaatkan. “Kurang lebih satu bulan ini dibangun, dan baru Jumat kemarin diresmikan,” kata Yulianto, Senin (29/10/2019).

Baca Juga :   Tripatra Akui Mulai Ada Surplus Naker

Gas yang dihasilkan, sementara baru digunakan untuk memasak harian. Karena belum bisa digunakan untuk produksi tahu. Sebab, tekanan gas yang dihasilkan masih kurang maksimal.

Untuk memasak tahu, pihaknya masih menggunakan kayu bakar.

“Kalau untuk masak tahu kan harus dengan nyala api besar. Gas ini sementara belum bisa. Karena tekanannya kurang,” jelasnya.

Selama masa percobaan, dirinya merasakan manfaat biogas. Semantara baru dua rumah tangga yang memanfaatkan biogas. Dirinya dan Ibunya.

“Untuk kebutuhan memasak harian, biasanya saya beli elpiji 10 hari atau dua Minggu sekali. Sejak menggunakan biogas, sebulan ini sama sekali tidak pernah menggunakan elpiji. Selain hemat, juga lebih aman,” jelasnya.

Menurut rencana, lima rumah lagi yang akan ikut memanfaatkan biogas. Sehingga jumlah total sementara yang akan memanfaatkan reaktor biogas ini sejumlag tujuh rumah. Dengan kapasitas produksinya, bisa mencapai 4 meter kubik bahan baku.

“Bahan baku dari kotoran sapi dan limbah tahu,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, reaktor biogas itu diletakkan di lokasi terbuka. Supaya terkena sinar matahari langsung. Panas dari sinar matahari bisa mempercepat produksi biogas. Butuh waktu 2 sampai 3 jam, sejak memasukkan materi limbah tahu dan kotoran sapi kedalam reaktor biogas.

Baca Juga :   Proyek Kampung Tunnel Molor

Sementara, dari keterangan resmi PEM Akamigas, Industri tahu itu sengaja dibidik oleh Tim Pengabdian Masyarakat PEM Akamigas yang diketuai oleh Toegas Soegeng Soegiarto.  Bagaimana dapat memanfaatkan hasil samping tahu untuk meningkatkan produktifitas tahu. Setelah melalui beberapa lama proses kajian dan penelitian. Hingga akhirnya Toegas dan tim membangun reaktor biogas dengan bahan baku limbah tahu cair.

Reaktor ini pertama kali dibangun di rumah ibu Tasripah, salah satu pemilik industri tahu yang telah merasakan secara langsung. Ada dua tempat lain di Kabupaten Blora. Yakni di Desa Turirejo, Kecamatan Jepon dan Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *