SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Sejak tiga hari terakhir ini pengguna mengeluhkan kondisi jalan lingkungan Dukuh Putuk, Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, karena banyak ceceran tanah membuat jalan sepanjang sekira 2 kilo meter ini berlumpur dan licin susah di lalui.
Ceceran tanah yang mengganggu perjalanan tersebut diduga dari limbah galian proyek drainase atau saluran air Bandara Ngloram, Kecamatan Cepu.
Harminto (37) warga Dukuh Puthuk Ngloram, mengungkapkan, kondisi paling parah adalah jalan masuk menuju pedukuhan, dan jalan lingkungan pedukuhan. Sebab, dalam pengangkutan limbah melalui pintu selatan yang langsung masuk lingkungan. Limbah bekas galian itu ditimbun di lapangan desa. Selanjutnya dilakukan pemerataan.
Waktu hujan kemarin, kondisinya sangat parah. Tanah tebal menutupi aspal, sehingga sulit dilalui kendaraan dan merugikan warga.
“Padahal warga sebelumnya sudah mengingatkan,†kata Harminto.
Dengan kondisi tersebut, warga menuntut adanya kompensasi. Kemudian jalan kembali dibersihkan.
“Hari ini kelihatannya ada pembersihan. Tidak tahu dari pihak mana. Tapi tenaganya dari warga,†jelasnya.
Kondisi ceceran tanah yang tebal sedikit mulai dibersihkan. Namun masih banyak tanah yang tertinggal menempel di jalan. Sehingga ketika turun hujan, jalan kembali tertutup tanah dan licin menyulitkan pengguna.
“Kemarin malah sempat ditanami pisang, karena warga sudah jengkel,” tambah Budiono warga Ngloram.
Terpisah, Kepala Desa Nglora, Diro Beny Susanto, mengaku sudah ada tindakan. Hanya saja kemarin kondisinya hujan.
“Hari ini sudah normal lagi,†klaimnya.
Untuk diketahui, proyek drainase itu dikerjakan oleh PT Somba Hassida dengan anggaran dari APBN sebesar Rp3.826.930.000. Dengan waktu pelaksanaan selama 90 hari kalender.
Site Manager PT Somba Hassida, Teraldi, tidak memberikan tanggapan terkait tanggung jawab kepada lingkungan. Pesan singkat yang dikirim Suarabanyuurip.com, belum mendapatkan respon.
Pantauan di lapangan, ternyata bukan hanya di Desa Ngloram saja. Kondisi ceceran tanah tersbut juga tampak di Jalan Raya Kapuan sepanjang kurang lebih 4 kilo meter menuju pintu masuk bandara atau akses keluar masuk kendaraan pengangkut limbah.
Jalan tampak licin karena tanah yang tercecer disirami air dari pihak pelaksana proyek.(ams)