DPRD Bojonegoro Soroti Banjir Kota, Ini Penjelasan Pemkab

19599

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Banjir di sejumlah ruas jalan protokol Bojonegoro, Jawa Timur, setiap terjadi hujan deras, menjadi sorotan Komisi D DPRD setempat.  Sebab perbaikan gorong-gorong sudah dilakukan oleh pemerintah kabupaten (Pemkab) hampir di semua jalan protokol.

Ketua Komisi D DPRD Bojonegoro, Abdullah Umar menyatakan akan memanggil Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya untuk memastikan penyebab banjir di kawasan perkotaan. 

“Nanti kita tanyakan untuk mengetahui sampai mana pengerjaan gorong-gorong,” tegas politisi PKB itu.

Menurut Umar, semua pekerjaan untuk mengatasi banjir di kawasan perkotaan sudah dianggarkan, namun penanganan belum maksimal.

“Kami berharap, Pemkab jangan selalu berasumsi jika banjir di Bojonegoro hanya 2 atau 3 jam setelah hujan genangan akan hilang,” tandasnya.

Banjir di kawasan perkotaan terbaru terjadi pada Sabtu (22/2/2020) sore. Ada 12 ruas jalan yang terendam banjir. Yakni Jalan A. Yani, Gajah Mada, Untung Suropati, Diponegoro, Panglima Polim, Pattimura, dan Panglima Sudirman.

Kemudian jalan Pahlawan, Imam Bonjol, Mastrip, Tengku Umar, Pemuda, Lettu Suyitno, dan Jalan Lisman. Tinggi air antara 30 – 60 centi meter. 

Baca Juga :   Korban Banjir Babat Terabaikan

Menanggapi itu, Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya Bojonegoro, Welly Fitrama, menjelaskan banjir di wilayah perkotaan akibat bergesernya potensi curah hujan  (CH) yang terjadi dari standar perencanaan hujan selama 4-6 jam yang dalam realita di lapangan menjadi hanya 1-3 jam dengan potensi curah hujan puncak yang tinggi dalam satu jam saja. 

Kondisi tersebut, lanjut Welly, mengakibatkan potensi air hujan yang turun menjadi besar di satu jam sehingga curah hujan yang terjadi di atas curah hujan rancangan saluran drainase kota.

“Curah hujan netto rancangan untuk perencanaan saluran drainase kota dengan probabilitas 5 tahunan sebesar +- 48 mm,” ujarnya dikonfirmasi tepisah. 

Dari catatannya, banjir di kawasan perkotaan telah terjadi dua kali. Yakni pada  Senin (17/2/2020) curah hujan puncak 50 mm dalam satu jam, dan Sabtu (22/2/2020) curah hujan puncak 55 mm dalam satu jam.

“Faktor lainnya perubahan fungsi lahan perkotaan Bojonegoro secara cepat dan masif,” tegasnya.

Menurut Welly, lahan yang semula sebagai kantung kantung air (bosem alami) berubah menjadi lahan urugan dan bangunan tanpa memperhitungkan kapasitas air yang semula di tampung.

Baca Juga :   Dua Kali Mangkir, Polisi Akan Jemput Paksa Pemilik BBM

“Disamping itu juga perlu adanya penyesuaian bangunan-bangunan yang berdiri di atas saluran air yang mempersempit ruang gerak dari aliran air,” pungkas Welly.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *