Bagian SDA : Gas di Margomulyo Tak Berkaitan dengan JTB

20510

SuaraBanyuurip.com -  Ririn Wedia

Bojonegoro – Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Bojonegoro, Jawa Timur, menegaskan keluarnya gas di area musala Dusun Padasmalang, Desa Kalangan, Kecamatan Margomulyo, tidak ada hubungannya dengan pengeboran yang sedang berlangsung di Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB). 

“Tidak ada hubungannya sama sekali,” kata Kasubag ESDM dan Lingkungan Hidup Bagian SDA, Dadang Aris, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (22/7/2020). 

Penegasan tersebut sekaligus sebagai klarifikasi pemberitaan sebelumnya yang menyebutkan munculnya gas liar di Desa Kalangan diperkirakan ada hubungannya dengan pengeboran Gas JTB di Desa Bandungrejo.

Menurut Dadang, gas yang keluar di Margomulyo tersebut telah dilakukan kajian oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Bagian SDA dengan menggunakan peralatan geolistrik. Diketahui, jika gas tersebut hanya gas liar yang mengandung senyawa Co2.

“Apalagi, jika diruntut lokasi penemuan gas berdekatan dengan aliran sungai Bengawan Solo. Sehingga, potensi gas liar atau biasa disebut gas rawa muncul jika warga menggali lubang untuk sumur,” jelasnya.

Pihaknya berharap, masyarakat tidak berasumsi adanya potensi gas yang sama dengan lapangan Gas JTB. Terlebih, membawa latar belakang sejarah dilaksanakannya seismik oleh PT Seleraya Energi tahun 2013 pada pemberitaan sebelumnya.

Baca Juga :   PPSDM Migas Dorong Sinergi Pengembangan SDM Perguruan Tinggi

“Tidak ada hubunganya dengan seismik apalagi potensi gas yang besar di daerah itu,” tandas Dadang.

Dijelaskan, deskripsi analisa geolistrik adalah urutan lapisan dari yang terdangkal yaitu 0-10 meter adalah batulempung sisipan batupasir, kedalaman 10-12 meter adalah batupasir. Lapisan tersebut sebagai lapisan penyimpan air (Akuifer) pada sumur warga (sumur gali). 

Kemudian kedalaman 12-25 meter adalah batulempung. Lapisan tersebut sebagai penyekat antara lapisan penyimpan air tanah (Akuifer) dangkal dengan lapisan penyimpan air tanah (Akuifer) dalam. Kedalaman 25-55 meter adalah batupasir. Lapisan tersebut sebagai lapisan penyimpanan air tanah dan gas.

Sedangkan kedalaman 55-130 meter adalah batulempung. Lapisan tersebut sebagai batuan dasar. 

Sementara proses terbentuknya gas adalah berdasarkan peta geologi regional berada pada formasi undak Bengawan Solo yang terbentuk dari proses tektonik. Yaitu terangkatnya daratan bersamaan dengan terendapnya material banjir bengawan solo pada kala pleistosen sekitar 11.5000 tahun yang lalu, sehingga terbentuklah bukit yang terdiri dari hasil endapan Bengawan Solo.

Material endapan banjir Bengawan Solo (undak bengawan solo) yaitu batukonglomerat, pecahan lempung dan endapan batupasir yang mengandung fosil hewan dan tumbuhan yang menjadi bahan terbentuknya gas.

Baca Juga :   PEPC Diminta Penuhi RTH 25 persen di J-TB

“Berdasarkan data di lapangan gas di Margomulyo itu merupakan gas rawa yang terperangkap dalam jumlah sedikit dan kondisi keluarnya gas merupakan kondosi normal jika dilakukan pengeboran pada lapisan batupasir, dan akan habis beberapa saat,” pungkasnya.(rien)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *