Modal Nekat, Usaha Keripik Belut Kini Beromzet Rp 9 Juta Per Bulan

20730

SuaraBanyuurip.com -  Joko Kuncoro

Bojonegoro – Banyaknya produk makanan kemasan yang beredar di masyarakat tak lantas menciutkan rencana membuka usaha makanan. Karena terpenting adalah keseriusan dan bekerja keras menembus pasar.

“Awalnya hanya obrolan di warung kopi,” kata Ahmad Azza Alifudin memulai cerita bisnisnya kepada suarabanyuurip.com Selasa (18/8/2020). 

Juli lalu, ia mulai merintis usaha keripik belut bersama temannya yang diawalinya dengan usaha melawan keraguan dalam hati sendiri.   

Menurut Azza, setelah obrolan itu, ia dan temannya memberanikan diri untuk membuat satu produk jajanan yakni kribel atau keripik belut. Kini usaha kribel sudah mempunyai dua jenis rasa yakni pedas dan original.

“Awal merintis dan belum mempunyai pasar,’’ kata lelaki usia 23 tahun itu.

Dia mengatakan, setalah satu bulan berjalan fokus penjualannya melalui online. Karena, dapat dijangkau semua kalangan masyarakat. Penjualan online mempermudah dalam pemesanan. Selain itu, juga menempatkan agen di beberapa kabupaten seperti Tuban, Pasuruan, dan bahkan Jambi.

Pada Juli lalu, ia memproduksi 1.000 kemasan kripik belut dan disebar keseluruh kota melalui agen. Sehinnga, selain memperkenalkan hasil jajanan buatannya. Juga melatih diri untuk memiliki usaha sendiri.

Baca Juga :   Hidupkan Kuliner Lokal, Ademos Gelar Pelatihan Kurasi Lontong Dolokgede

“Ya, sudah memiliki agen untuk pemasaran. Karena untuk memperkenalkan produk atau jajanan sangatlah sulit. Apalagi baru merintis,’’ ungkapnya.

Lelaki asal Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini mengaku dalam sebulan meraup omzet sebesar Rp 9 juta. Ia berusaha menambah jumlah produksi. Bulan Agustus ini, ia memproduksi 2.000 kemasan keripik belut.

Menurut Azza, untuk memproduksi kribel, sekali produksi menghabiskan 10 kilogram belut hidup. Dan dalam sebulan empat hingga lima produksi.

“Hasil penjualan di bulan pertama laku sebanyak 860 kemasan. Kemudian, untuk sisanya kami buat testimoni,’’ ungkapnya.

Dia menjelaskan, usaha keripik belutnya bisa laku cepat dan sebanyak itu karena menggunakan jaringan di media sosial. Selain itu, pihaknya juga menitipkan di minimarket sekitar Bojonegoro.

Namun, dalam usahanya itu memiliki beberapa kendala salah satunya kesulitan dalam memncari belut. Apalagi ketika musim kemarau pasti sulit.

“Rerata kami membeli beli hasil tangkapan petani lokal,’’ kata pria alumnus IAI Sunan Giri Bojonegoro itu.

Ia mempunyai rencana akan menambah satu varian rasa lagi yakni balado dan memperbanyak jumlah produksi. Sealin itu, Azza juga berusahan keripik belutnya bisa menjadi salah satu makanan khas Bojonegoro. (jk)

Baca Juga :   Tahun Ajaran Baru Jadi Berkah Pengusaha Konveksi


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *