SuaraBanyuurip.com -Â Joko Kuncoro
Bojonegoro – Cerita bisnisnya dimulai tahun 2014 lalu. Enam tahun lalu, Puji Susanto mulai merintis pembuatan keripik tempe. Awalnya hanyalah coba-coba, namun kini usaha yang ia rintis sudah terkenal di pasaran.
Meski sempat mengalami kegagalan saat pertama memproduksi, Puji sapaan akrabnya, pantang menyerah. Kini dalam sebulan ia bisa meraup omzet hingga Rp 16 juta.
Lelaki asal Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu mengatakan, usahanya berawal saat istrinya mendapat oleh-oleh dari Kota Malang yakni keripik tempe. Akhirnya terinspirasi untuk mencoba membuat sendiri, karena terlihat menarik dan bahannya mudah didapat.
“Saya belajar secara otodidak,’’ katanya membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com.
Pertama produksi, Puji mengaku pembuatan keripik tempe masih menggunakan cara manual. Salah satunya masih menggunakan pisau saat mengiris tempe dan belum memakai alat pemotong seperti saat ini. Awalnya, sangat kesusahan karena prosesnya lama dan menguras banyak tenaga.
Dulu sehari hanya bisa menghasilkan 6 kilogram (kg) keripik tempe sudah matang. Namun, belum bisa memenuhi permintaan secara banyak.
“Menggunakan cara manual hanya enam bulan saja,†kata pria usia 34 tahun itu.
Dalam proses pembuatan, pernah beberapa kali mengalami kegagalan. Karena kualitas tempe kurang sesuai dengan keinginan. Akibatnya, ketika sudah masuk dalam proses penggorengan tempe berwarna merah.
Selain itu, takaran seperti bumbu dalam pembuatan keripik tempe harus pas. Tidak kurang dan tidak boleh lebih. Karena semua itu yang mempengaruhi ciri khas rasa. Ketika ada perbedaan rasa, pasti ada yang salah dengan proses pembuatan tempe.
“Proses pembuatan tempe juga sangat berpengaruh. Karena biasanya ada tempe yang kecut dan busuk,†ujar pria yang tinggal di ring satu Lapangan Migas Sukowati, Blok Tuban itu.
Puji mengatakan, dalam pemasaran awalnya hanya dititipkan dari warung kopi ke warung kopi. Setelah berjalan dua tahun, sekitar awal 2016 lalu keripik tempe mulai dikenal masyarakat secara luas.
“Pertama niat, istiqomah, dan mental yang harus ditata. Agar tidak putus di jalan ketika melakukan suatu hal,†kisahnya.
Lelaki alumni STIE Cendekia Bojonegoro ini dalam sebulan bisa meraup omzet hingga Rp 16 juta. Bahkan bisa lebih tergantung permintaan konsumen. Harga keripik tempe dibanderol mulai Rp 1.000 hingga Rp 45 ribu.
Kini dalam sehari bisa memproduksi 48 kg dalam sehari. Karena, jumlah permintaan yang sangat banyak.
“Terkadang hingga luar kota seperti Kota Malang, Denpasar, Surabaya. Semua itu, berkat ketelatenan dan sabar dalam menekuni usaha,†ungkapnya.
Dia mejelaskan, ada tiga varia rasa keripik tempe ini. Seperti original, manis, dan pedas namun rerata para pelanggan lebih menyukai rasa original. Karen rasanya enak dan renyah ketika dimakan. Bahkan, ada pembeli dari Gresik yang memesan hingga 60 kg.(jk)