Target Puncak Konstruksi Proyek Gas JTB Mundur

20914

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Target puncak konstruksi proyek rekayasa pengadaan dan konstruksi fasilitas pemrosesan gas (Engineering, Procurement and Construction – Gas Processing Facility/EPC-GPF) Jambaran – Tiung Biru (JTB) yang berpusat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mundur. Awalnya, puncak konstruksi proyek strategis nasional tersebut ditargetkan berlangsung pada September dan Oktober 2020.

“Ini agak bergeser. Mulanya September dan Oktober sudah puncak. Kita perkirakan puncak bisa berlangsung di Desember 2020,” ujar Zaenal Arifin, Site Manager PT Rekayasa Industri (Rekind), pelaksana proyek EPC-GPF JTB, usai rapat dengar pendapat (hearing) dengan Pimpinan DPRD Bojonegoro, Rabu (9/9/2020).

Dijelaskan, bergesernya target puncak konstruksi ini disebabkan ada beberapa logistik proyek Gas JTB baik di luar negeri maupun dalam negeri yang belum sampai ke lokasi akibat adanya pandemi virus corona atau Covid-19 yang masih berlangsung secara global maupun nasional.

“Sehingga kami tidak bisa menambah orang tanpa ada material. Kalau ini tidak ada Covid, kita sudah puncak sekarang ini,” tegas Zaenal. 

Baca Juga :   Cadangan Migas Ditemukan di WK Mahakam, Temuan Baru di Awal 2022

Jumlah tenaga kerja yang terserap saat puncak konstruksi berlangsung diperkirakan mencapai 6.000 orang. Namun jumlah tersebut bisa bertambah tergantung kondisi nanti di lapangan.

“Bisa terjadi tergantung kondisinya. Kalau nanti dirasa kita perlu speed up untuk mengejar di gas in, ya akan kita tambah,” tegasnya.

Proyek Gas JTB ditargetkan selesai pada Desember 2021. Potensi gas JTB diprediksi mencapai sebesar 315 Juta Standar Kaki Kubik per Hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD). dan target gas onstream/komersil dengan sales gas sebesar 192 MMSCFD.   

Produksi gas sebesar 192 MMSCFD tersebut nantinya akan dialirkan melalui Pipa transmisi Gresik-Semarang. Dengan cadangan gas JTB sebesar 2,5 triliun kaki kubik (TCF), JTB diharapkan dapat memberikan multiplier effect, khususnya untuk mengatasi defisit pasokan gas di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Masih ada sisa waktu 18 bulan untuk menyelesaikan proyek ini,” tandas Zaenal. 

Perkembangan proyek JTB secara keseluruhan mencapai 71,93 % sampai bulan Agustus 2020. Untuk pekerjaan konstruksi mencapai 46,78% dari target 57,57%.
“Ada keterlambatan hampir 11% akibat dampak Covid,” pungkasnya.(suko)

Baca Juga :   Jadi Daerah Penghasil Migas Terbesar di Indonesia, Mengapa UMK Bojonegoro Rendah?

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *