Peringati HMPI, 43 Organisasi Pemerhati Lingkungan Akan Tanam Sejuta Pohon

21500

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Sebanyak 43 organisasi pemerhati lingkungan di kabupaten Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur, yang tergabung dalam Gerakan Lestari Alam Raya (GELAR) akan melakukan Aksi Tanam Sejuta Pohon. Gerakan ini dilakukan serentak di Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPN) pada Sabtu 28 November 2020.

Sebanyak 19 titik yang menjadi lokasi penanaman di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban. Di Kabupaten Bojonegoro, penanaman dilaksanakan di 23 desa di enam kecamatan. Meliputi Desa Ngadiluhur, Penganten, Lengkong, Kecamatan Balen; Desa Kandangan dan Trucuk, Kecamatan Trucuk; Desa Sumberharjo, Kecamatan Sumberrejo; Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu; Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam; dan lima desa di Kecamatan Ngambon.

Sedangkan di Kabupaten, penanaman pohon dilaksanakan di enam desa di dua kecamatan. Yakni Desa Sumur Jalak, Kesamben dan Manunggal, Kecamatan Plumpang; serta Desa Pucangan, Glodok, dan Leran Kulon; Kecamatan Palang. 

Ada 11 jenis pohon yang akan ditanam. Yaitu Trembesi, Mahoni, Sengon, Kelor, Tabebuya, Mangrove, Cemara Laut, Mangga, Sirsak, Nangka dan Jati.

Koordinator Aksi Tanam, Rizal Zubad Firdausi menjelasakan, gerakan ini adalah bentuk kampanye sekaligus contoh gerakan serentak oleh masyarakat dan sukarelawan yang berkontribusi dalam memperbaiki kelestarian lingkungan dan merawat bumi. Lokasi yang dipilih adalah waduk/embung, tepi sungai dan sumber mata air sebagai fungsi konservasi air. 

“Sedangkan untuk menambah ruang terbuka hijau dan penghijauan gerakan ini memilih fasilitas umum seperti lapangan dan sepanjang jalan raya dengan bekerjasama bersama masyarakat sekitar agar tumbuh rasa memiliki dan turut serta merawat pohon tersebut,” ujarnya kepada suarabanyuurip.com, Jumat (27/11/2020).

Baca Juga :   Libatkan 32 UMKM dalam Halal bi Halal Mannah - Ademos di Dolokgede Bojonegoro

Sebagai informasi, berdasarkan catatan iklim BMKG tahun 2019, ternyata suhu udara pada tahun 2019 merupakan tahun terpanas kedua setelah tahun 2016 di Indonesia. Peningkatan panasnya tercatat mencapai 0,84 derajat Celsius. Perubahan iklim ini menjadi cambuk pada konfrensi perubahan iklim 2019 di Madrid untuk lebih dapat mengendalikan iklim secara global oleh semua negara. 

Emisi dan deforestasi menjadi fokus utama dalam penanganan iklim. Dari tahun 2015 hingga tahun 2019, greenpeace internasional mencatat terdapat 3.403.000 ha lahan terbakar di Indonesia. Upaya trade carbon yang seharusnya menjadi keuntungan bagi Bojonegoro yang 40% wilayahnya adalah hutan.  Selain masalah peningkatan suhu di Bojonegoro dan Tuban yang naik rata-rata 1,02 derajat selama sepuluh tahun ini (accuwheater), juga permasalahan kekurangan sumber air yang selalu terjadi di musim kemarau dan banjir di musim hujan.

Pembangunan yang selalu mengorbankan lingkungan tak luput dari masalah utama di negeri ini. Penebangan pohon, penambangan gunung, pembangunan di wilayah konservasi air dilakukan dengan dalih pengembangan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan dan pengembangan industri. 

“Hal ini tidak sejalan dengan mandat Sustainable Development Goals (SDG’s) tujuan ke-11 membangun kota dan pemukiman inklusif, aman baik dari bencana maupun hal lain, tahan lama dan berkelanjutan serta tujuan 13 yaitu penanganan perubahan iklim,” tutur Rizal.

Baca Juga :   Jelang Lebaran, Petugas Periksa Kelaikan Angkutan Umum

Oleh karena itu, upaya-upaya mitigasi harus diwujudkan dengan cara menemukan beragam faktor penyebab perubahan iklim dan melakukan upaya untuk menguranginya seperti mengurangi kadar emisi gas buang dari kendaraan bermotor atau reboisasi hutan lindung dan konservasi hutan, sumber mata air dan sungai serta memperbanyak ruang terbuka hijau di kota hingga ke desa. 

“Mitigasi ini harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Dalam kondisi ini pada akhirnya komunikasi antar pemangku kepentingan menjadi sangat penting termasuk komitmen kebijakan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat,” tegasnya. 

Menurut Rizal, agenda lokal, regional maupun global akan terwujud manakala semua bergandengan tangan menjaga bumi ini. Saat ini isu konservasi air, penghijauan dan perluasan ruang terbuka hijau menjadi perhatian utama yang harus dilakukan, perubahan iklim dipandang sebagai tantangan yang harus segera dihadapi dan diatasi dengan baik.  

“Ini tentu saja menuntut kesadaran dan peran serta aktif semua pihak, bukan hanya pemerintah, melainkan seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan besok merupakan upaya nyata yang kami lakukan untuk turut menjaga kelestarian lingkungan,” tandas Rizal.(suko)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *