Sepanjang 2019 hingga 2021 Pertamina Rosneft telah menumpahkan anggaran Rp23 miliar untuk kegiatan CSR di lokasi kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Sedangkan di enam desa terdekat lokasi belum terasa geliat pemberdayaan untuk memandirikan warga secara masif.
————————————-
Bila dirunut ihwal pendirian kilang minyak di wilayah Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jatim bagai cerita panjang dengan berbagai problema penyerta. Mulai pembebasan lahan yang sempat ditolak warga, adendum Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) karena perubahan penentuan lokasi (Penlok), hingga guliran program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang telah dilakukan Pertamina sebelum kontsruksi dimulai.
Pembangunan Kilang Tuban adalah proyek strategis nasional. PT Pertamina dan perusahaan dari Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, yang kemudian membentuk PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (Pertamina Rosneft), berinvestasi sebesar US$ 16 miliar atau setara Rp225 triliun, untuk membangun kilang yang bakal menghasilkan BBM dalam bentuk gasoline, diesel, dan avtur sebanyak 229 ribu barel per hari.
Sebenarnya Pertamina Rosneft cukup mafhum, jika keterlibatan warga sekitar turut menjadi pendukung keberhasilan proyek tersebut. Harmoni antara perusahaan dan warga enam desa terdampak, Desa Rawasan, Wadung, Sumurgeneng, Mentoso, Beji, dan Desa Kaliuntu, semuanya di Kecamatan Jenu, Tuban musti dirintis.
Pihak perusahaan, kata Direktur Utama Pertamina Rosneft Kadek Ambara Jaya, memiliki komitmen tinggi dalam menciptakan multiplier effect bagi masyarakat Tuban melalui proyek GRR Tuban. Komitmen itu pula yang mengarahkan perusahaan menggulirkan berbagai program TJSL kepada warga di enam desa tepian pantai utara Jawa di Bumi Ranggalawe.
“Selama tiga tahun dari 2019-2011, kontribusi Tanggung Jawab Sosial Lingkungan GRR Tuban telah mencapai Rp23 miliar,†papar Kadek Ambara Jaya dalam rilis berita resmi yang diunggah di situs Pertamina.com pada 29 Januari 2022 (https://pertamina.com/id/news-room/news-release/on-track-proyek-grr-tuban-berhasil-serap-1220-pekerja-lokal).
Statemen lelaki ramah dari Pulau Dewata itu mengemuka, setelah aksi unjuk rasa ratusan pemuda dari Karang Taruna enam desa di lokasi bakal kilang pada 24 Januari 2022. Mereka menuntut prioritas dalam rekrutmen tenaga security yang dilakukan Pertamina Rosneft melalui PT Pertamina Training and Consulting (PTC).
Program TJSL perusahaan, kata Kadek Ambara Jaya saat dikonfirmasi Suarabanyuurip.com yang kemudian didelegasikan kepada Yuli Wahyu Witantra yang membidangi CSR untuk memberi keterangan, Pertamina Rosneft menyelenggarakan program melalui kolaborasi bersama PT Pertamina (Persero) melalui fungsi CSR Pertamina (Persero), Project Grass Root Refinery Tuban, dan Marketing Operation Region V Jatimbalinus. Implementasinya melalui bidang pendidikan, kesehatan, pelestarian lingkungan hidup, dan bidang kemandirian masyarakat.
“Sejak 2019 perusahaan telah menyalurkan program TJSL, donasi, sponsorship kepada lebih dari 13.000 penerima bantuan, dan 33 kelompok/organisasi,†kata Yuli Wahyu Witantra tanpa menyebut identitas penerima bantuan dari perusahaan milik negara tersebut.
Pada tahun 2020–tanpa pula menyebut besar anggaran yang telah digulirkan, terdapat beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat terkait peningkatan kapasitas. Bentuknya berupa pelatihan pengolahan ikan asap, pelatihan dalam pembentukan koperasi nelayan, dan pelatihan budidaya ikan lele.
“Program-program tersebut dilaksanakan di enam desa dengan total peserta 75 orang,†urai Yuli Wahyu Witantra.
“Memang ada kegiatan pembentukan koperasi nelayan di Desa Mentoso, tapi setelah dibentuk tak ada tindaklanjutnya berupa pelatihan. Koperasi sudah terbentuk tapi sampai sekarang tak ada kegiatan,†sergah M Dikin tokoh masyarakat di samping sejumlah perangkat desa saat dikonfrontir secara terpisah di kantor desa setempat.Â
Sejumlah tokoh masyarakat dari desa–sesuai data yang dilansir BPS Tuban tahun 2019, berpenduduk 2.762 jiwa dengan 836 KK yang menghuni dua dusun, Mentoso dan Mlangwe, sempat kaget jika Pertamina Rosneft telah menggulirkan anggaran untuk kegiatan CSR hingga Rp23 miliar selama tiga tahun mulai 2019, lantaran di desanya baru ada bantuan Waring (jaring ikan Rebon) untuk 70 orang nelayan. Dibantu 400 paket sembako senilai Rp200.000 per paket pada tahun 2020, data penerimanya diambil dari penerima Program Keluarga Harapan (PKH).
“Pelatihan skill untuk kemandirian pemuda belum pernah ada dari Pertamina di desa ini,†ungkap sejumlah tokoh masyarakat Mentoso saat ditemui terpisah. “Memang ada warga lulusan SMA dan sejenisnya yang daftar pelatihan ke BLKI (Balai Latihan Kerja Industri) Tuban, tapi itu atas inisiatif mereka sendiri. Bukan difasilitasi Pertamina,†tandasnya.
Informasi dari warga yang permukimannya berdampingan dengan lahan bakal kilang tersebut menyebut, Pertamina telah memberikan bantuan asuransi untuk untuk nelayan di desa ini. Kartu Asuransi Nelayan Mandiri yang diserahkan melalui koperasi nelayan pada bulan November 2020 tersebut, berlaku selama satu tahun mulai 1 Desember 2020 hingga 1 Desember 2021. Kini masa berlakunya tentunya perlu diperbarui lagi.
Sedangkan program TJSL berupa pelatihan ternak Lele dari Pertamina Rosneft, sebagaimana diungkapkan Yuli Wahyu Witantra di atas, telah dilakukan di Desa Sumurgeneng pada tahun 2020. Program ini untuk satu kelompok beranggotakan 10 orang dari desa seluas 7 Km2 yang dihuni 3.384 jiwa (933 KK). Mereka dibantu dua unit kolam ikan dari bahan terpal plastik dengan diameter 3 M2 (tiga meter persegi).
Diawal program kelompok ini dibantu bibit, pakan, dan kolam. Program ini terhenti tanpa ada pendampingan secara berkesinambungan. Pihak Pertamina Rosneft sempat sekali mendatangi lokasi dengan didampingi polisi, TNI, dan Kepala Desa Sumurgeneng Gihanto.
Kolam Lele sempat panen empat kali, kini tak diteruskan karena setiap panen selalu merugi. Untuk beli pakan saja menghabiskan biaya Rp3 juta, sedangkan harga jualnya Rp2 juta. Warga menilai, jika saja program ini didampingi tenaga ahli mungkin akan sukses.
“Dua kolam Lele tersebut sekarang tak dipakai, karena kelompok tak sanggup meneruskan karena rugi,†kata Sholikin, perangkat desa setempat.
Di desa dengan warga usia kerja berumur 18 hingga 44 tahun sebanyak 1.476 orang ini, sebenarnya menerima bantuan rehap madrasah senilai Rp50 juta. Pun menerima bantuan tambahan gizi untuk Balita yang dilewatkan Posyandu dengan secara temporer.
“Kalau program pemberdayaan masyarakat berupa pelatihan keahlian atau ketrampilan agar warga mandiri di Sumurgeneng, ingat saya belum ada dari Pertamina,†ujar Sholikin seraya berharap, agar Pertamina Rosneft tak hanya menjadikan warga desanya sebagai kuli bangunan saja saat proyek konstruksi kilang–ditaksir memakan waktu 4 tahun–membutuhkan sekitar 27.000 pekerja itu berlangsung. (teguh budi utomo/bersambung)