Akupunktur adalah salah satu teknik pengobatan tradisional dari China. Konon teknik ini sudah sejak ribuan tahun lalu digunakan di negeri panda. Kini akupunktur telah mengalami perkembangan dari teknik tradisional klasik menjadi konsep medis.
TAK banyak orang bisa memiliki keahlian dalam melakukan terapis akupunktur, karena membutuhkan waktu yang relatif lama, dan kesabaran dalam mempelajari hingga menguasai ilmu ini.
Gusti Noor Barokatin Ismilah, warga Desa Kenep, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, misalnya. Gadis yang karib disapa Atin ini selama tiga tahun mempelajari dan mempraktekkan ilmu akupunktur tradisional dalam konsep medis.
Atin mengaku, mengenyam pendidikan D3 Pengobatan Tradisional Fakultas Vokasi di Universitas Airlangga Surabaya. Dari situlah ia mendapatkan ilmu tentang Akupunktur.
“Saya memulai menjadi seorang terapis akupunktur sejak tiga tahun lalu,” ungkap gadis berusia 26 tahun ini kepada SuaraBanyuurip.com.
Menurut terapis muda ini, meski disebut sebagai pengobatan tradisional, teknik Akupunktur yang dilakukan juga ada sentuhan modern. Dalam prakteknya dibantu dengan alat yang namanya elektrostimulator. Alat ini dibuat untuk membantu stimulasi di titik titik meridian pada tubuh dengan instrumen listrik, frekuensi, dan waktu tertentu.
Dimana Akupunktur yang dipadukan elektrostimulator menghasilkan keseimbangan energi yang biasa disebut “Qi” dalam tubuh sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan.
“Gelombang listrik pada stimulator memiliki tegangan yang relatif kecil, jadi aman,” tandasnya.
Metode Akupunktur, jelas Atin, adalah teknik kesehatan holistik yang berasal dari praktek pengobatan tradisional China dimana praktisi terlatih merangsang titik-titik tertentu pada tubuh dengan memasukkan jarum tipis ke dalam kulit untuk mengobati berbagai macam penyakit, rasa sakit dan gejala yang berhubungan dengan stress.
Gadis berzodiak Sagitarius ini menerapkan ilmunya untuk membantu sesama yang membutuhkan ketrampilannya dalam pengobatan tradisional. Atin memilih mendedikasikan hidupnya untuk mendalami pengobatan akupunktur dengan teknik dari China.
“Sebagian terapis biasanya lebih suka disebut sebagai kedokteran timur,” ujarnya.
Dalam dedikasinya, ada dua alasan Atin memilih akupunktur sebagai jalan hidupnya. Pertama dari kecil sudah terbiasa melihat pengobatan tradisional. Sedangkan alasan kedua ingin membantu banyak orang agar tetap sehat dan bugar dengan ilmunya.
“Maklum saja, bapak saya selain seorang tenaga pengajar juga seorang terapis dan herbalis. Jadi sejak saya kecil sudah biasa melihatnya,” tandasnya.
Hampir setiap hari Atin menerima pasien di rumahnya. Pasiennya tidak hanya dari Bojonegoro saja, namun banyak juga datang dari berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Bahkan ada juga yang dari luar Jawa.
Disinggung penanganan penyakit apa saja yang bisa dilakukan dengan Akupunktur. Atin menerangkan, bahwa pada prinsipnya semua jenis penyakit bisa ditangani dengan metode Akupunktur. Karena yang diterapi adalah sistem organ yang terganggu dari keluhan pasien.
Berbagai jenis penyakit mulai dari yang ringan sampai yang berat bisa tertangani dengan metode Akupunktur. Selain itu, kata Atin, tidak hanya penanganan penyakit saja, namun Akupunktur juga bisa menjadi metode perawatan kecantikan. Karena selain pengobatan tradisional dengan metode Akupunktur, Atin juga memiliki kemampuan dalam pijat, totok wajah, dan herbalis.
“Banyak juga yang datang kesini untuk perawatan kecantikan, ingin wajahnya lebih tirus, pingin lebih kurus, ingin cepat hamil sampai masalah kebugaran lelaki,” tambahnya.
Agar bisa mendapatkan hasil yang optimal untuk pasien yang sakit atau ingin perawatan kecantikan, harus diterapi sebanyak 12 kali dengan waktu yang ditentukan sesuai jenis dan beratnya sakit yang dideritanya.
Sementara untuk tingkat kesembuhan tergantung stadium penyakit atau keluhan yang di derita pasien. Kondisi kekuatan tubuh pasien juga berpengaruh tingkat kesembuhan. Hal itu menjadi pertimbangan harus berapa kali pasien mendapatkan terapi.
“Prinsipnya semua sakit bisa diatasi, yang membedakan sebanyak berapa pertemuan terapinya,” ucapnya.
Berkaitan tentang biaya berapa yang harus keluar dari kocek pasien untuk mendapatkan terapi akupunktur. Atin mengaku tidak pernah mematok tarif. Hanya tarif keikhlasan dari pasien yang ia terima, asalkan bernilai pantas.
“Seikhlasnya, yang penting pantas,” pungkasnya.(Arifin Jauhari)