SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Tuban – Setiap bulan suci Ramadan masyarakat di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, selalu berburu bubur di masjid Muhdhor di kelurahan setempat. Tradisi ini sudah dilakukan sekitar tahun 1960an. Namun, konon kabarnya sejak tahun 1937 tradisi ini sudah ada.
Butuh waktu sekitar 2,5 jam untuk memasak bubur yang sudah lama di kenal oleh masyarakat Tuban dengan sebutan bubur Muhdhor itu. Meski sempat menghilang sekitar dua tahun karena dampak pandemi covid-19, kini bubur Muhdhor bisa dinikmati lagi oleh warga sekitar.
“Saya antre bubur Muhdhor yang rasanya manis sekali. Kemarin selama dua tahun gak ada, alhamdulillah sekarang sudah ada,” kata Aisyah Baagil, salah satu masyarakat yang mengantri bubur Muhdhor kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (04/04/2022).
Aisyah mengaku, butuh waktu lama untuk mendapatkan bubur yang hanya ada di bulan Ramadhan. Bahkan ia rela mengantri hingga berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan bubur Muhdhor.
“Bubur Muhdhor ini hanya ada di bulan suci Ramadan. Isi bubur Muhdhor sendiri ada rempah-rempah, ada dagingnya, dan ini buburnya masih panas,” ujarnya.
Sementara itu, Takmir Masjid Muhdhor, Agil Al Bunumay mengatakan, bubur Muhdhor tidak pernah mengalami perubahan dari segi bumbu maupun rasa. Cita rasa khas kelezatan masakan Masjid Muhdhor tetap dipertahankan hingga sekarang.
“Bahan bakunya terdiri dari beras, santan, bumbu gulai, rempah-rempah, bawang merah, bawang putih, daging kambing dan campuran lainnya,” terangnya.
Agil Al Bunumay menambahkan, kegiatan bagi bubur ini berawal pada saat jaman masih susah. Diperuntukkan kepada masyarakat yang dianggap kurang mampu. Selain itu dibagikan untuk jamaah masjid setempat.
“Dulu dibagikan ke rumah-rumah, untuk janda-janda yang kesusahan. Diantar oleh orang yang muda-muda, hal itu berjalan hingga tahun 1970-an,” tambahnya.
Namun seiring perkembangan jaman, saat ini untuk pembagian bubur tersebut masyarakat yang datang secara mengantri di masjid Muhdhor. Dan tidak terbatas hanya kepada warga sekitar Masjid saja.
“Sekarang sudah tidak dibatasi untuk warga sekitar Kutorejo ataupun Sidomulyo, namun warga darimana saja datang untuk menikmati bubur ini. Insya Allah untuk musholla sekitar masih tetap di utamakan,” pungkasnya.(fin)