Suarabanyuurip.com – d suko nugroho
Jakarta – Direktorat Jendral (Ditjen) Migas Kementerian ESDM mengungkapkan sejumlah tantangan optimasi gas bumi sebagai energi transisi. Di antaranya kemudahan birokrasi dan perizinan khususnya dari Pemerintah Daerah.
Selain itu, tantangan lain optimasi gas bumi adalah perbaikan fiskal hulu migas untuk meningkatkan investasi, ketersediaan pasokan jangka panjang, penemuan lapangan gas yang lebih besar, dan tersambungnya infrastruktur pipa gas dari Sumatra ke Jawa, dan terintegrasinya infrastruktur pipa dan non pipa.
Menurut Dirjen Migas Tutuka Ariadji, agar optimasi gas bumi berjalan lancar diperlukan perencanaan energi lintas sektor dan jangka panjang, dukungan pendanaan yang besar, serta kerja sama internasional.
“Diperlukan juga support dalam bidang teknologi dan iklim investasi yang kondusif,” tegas Tutuka dalam peenyataan tertulisnya.
Pria yang pernah menjabat Kepala PPSDM Migas itu menyampaikan, gas bumi sekarang ini menjadi energi transisi dari energi fosil menuju energi bersih karena ketersediaannya cukup banyak dan lebih ramah lingkungan dibandingkan minyak bumi. Dari sisi ekonomi, cadangan gas yang lebih besar akan lebih menguntungkan karena dapat dilakukan perencanaan secara jangka panjang, transparan dan dapat diandalkan.
“Untuk itu, pemerintah terus berkomitmen mengoptimalkan gas bumi sebagai energi transisi dengan melakukan beberapa langkah,” tegas Tutuka di acara Human Capital Summit 2023 di Jakarta Convention Center, Selasa (21/3/2023) lalu.
Dia menjelaskan sejumlah langkah yang dilakukan antara lain, program gasifikasi pembangkit listrik, mendukung pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), jaringan gas kota, serta pembangunan kilang minyak baru (GRR) dan peningkatan kapasitas kilang minyak (RDMP).
“Langkah lainnya adalah pembangunan pipa transmisi gas, jaringan distribusi gas, pembangunan smelter, pembangunan LNG skala kecil, LNG bunkering, optimalisasi SPBG yang ada, serta pengembangan hidrogen,” tuturnya.
Khusus terkait pipa transmisi, saat ini tengah dibangun pipa Cirebon – Batang sebagai bagian dari pipa Cirebon – Semarang (CISEM) dan diharapkan rampung sekitar Juli hingga Agustus 2023. Pembangunan pipa CISEM merupakan bagian dari rencana interkoneksi pipa transmisi antara jaringan pipa transmisi Sumatera, Jawa Bagian Barat dengan jaringan pipa transmisi Jawa Bagian Timur.
Transisi energi ini merupakan upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE). Indonesia menargetkan pencapaian NZE pada tahun 2060 atau lebih cepat. Selain menjadikan gas sebagai energi transisi, pencapaian ZNE juga memerlukan sumber daya manusia (SDM) berkualitas tinggi yang menguasai teknis, berprespektif lingkungan, memiliki kemampuan manajerial, serta berwawasan global.
Menurut Tutuka, terdapat empat persyaratan yang harus dipenuhi untuk mencapai NZE terkait SDM. Pertama, SDM harus memiliki penguasaan teknis di mana untuk subsektor migas maka SDM tersebut harus memiliki penguasaan terhadap geologi, geofisika, reservoir, produksi dan pengeboran, serta bisnis terkait lainnya.
Syarat kedua adalah SDM harus berprespektif lingkungan. Industri migas Indonesia saat ini telah memiliki SDM yang potensial, terutama di tataran menengah. Namun peningkatan kemampuan terutama terkait transisi energi harus tetap ditingkatkan. Misalnya, terkait CCS dan CCUS, kegiatan operasi panas bumi, tenaga surya, green and blue hydrogen, serta energi terbarukan.
Ketiga, SDM harus memiliki kemampuan manajerial yaitu memiliki visi yang jelas tentang arah transisi energi, mampu membangun tim yang solid, berdisplin dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik, pembuat keputusan sekaligus ahli strategi.
Terakhir, SDM yang berperspektif global yaitu berkomitmen menjawab tantangan dan berinovasi dalam mengatasi segala hambatan untuk mempercepat transisi energi global.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Rida Mulyana menyampaikan, sebanyak 60% sumber energi listrik Indonesia berasal dari batubara. Hal ini akan menjadi pekerjaan rumah bersama apabila pemanfaatan teknologi belum bisa meredam emisi sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah.
“Itulah pentingnya transisi energi bagi Indonesia. Kita mesti pindah dari sesuatu yang ketergantungan dari energi fosil ke energi yang lebih ramah lingkungan dan semua ini sudah ada di dalam roadmap NZE,” ujar Rida.
Kesiapan human capital dalam mewujudkan NZE sangat penting sehingga acara Human Capital Summit 2023 ini menjadi modal utama karena semuanya tergantung ‘The Man Behind The Gun’.
“Apapun bagusnya programnya, pada akhirnya yang eksekusi dan terima akibatnya adalah human capital. Dan human capital ini bukan hanya menyediakan dalam jumlah yang cukup, juga harus berkualitas agar efektivitasnya dan efisiensi juga bisa didapat,” tambahnya.
Senada disampaikan Kepala BPSDM Kementerian ESDM Prahoro Yulijanto Nurtjahyo. Menurut dia, sangat penting bagi Indonesia melaksanakan transisi energi dan untuk mewujudkannya diperlukan SDM yang kompeten dan memiliki kapasitas yang baik.(suko)