Indonesia Butuh Investasi US$ 18 Miliar Per Tahun untuk Dongkrak Produksi Migas

hulu migas
FOTO ILUSTRASI : Salah satu kegiatan hulu migas Indonesia di lepas pantai.

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Jakarta – Peningkatan produksi migas membutuhkan investasi besar. Sejak dicanangkan dalam rencana dan strategi Indonesia Oil & Gas (IOG) 4.0 di tahun 2020, hingga 2030 secara rata-rata dibutuhkan investasi sebesar US$ 18 miliar per tahun.

Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf menyampaikan, untuk mencapai target Indonesia Maju pada 2045 dibutuhkan ketersediaan dan keterjangkauan energi. Pembangunan ekonomi yang terus tumbuh membutuhkan ketersediaan energi, termasuk minyak dan gas.

Nanang menyebut kebutuhan minyak dan gas hingga 2050 secara prosentase akan turun, tetapi secara volume terus meningkat dan tentu butuh waktu untuk dapat menggantikan peran energi migas dengan sumber yang lainnya.

“Tidak hanya kecukupan, tetapi juga keterjangkauan sehingga produksi migas nasional harus terus ditingkatkan,” tegasnya.

Berdasarkan data SKK Migas, Nanag melanjutkan, nilai investasi di sektor hulu migas terus mengalami kenaikan dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2023 ini, investasi di hulu migas ditargetkan mencapai US$15,5 miliar atau lebih tinggi 26 persen dibanding realisasi 2022. Target tersebut juga tercatat lebih tinggi dibanding pertumbuhan investasi global yang sebesar 6,5 persen.

Baca Juga :   PPSDM Migas Cepu Lanjutkan Program Tanam 10.000 Pohon

“Meski iklim investasi terus membaik, Indonesia masih harus bersaing dengan negara-negara lain dalam menarik investor,” tandasnya.

Sejak dicanangkan dalam rencana dan strategi Indonesia Oil & Gas (IOG) 4.0 di tahun 2020, kata Nanang, hingga 2030 secara rata-rata dibutuhkan investasi sebesar US$ 18 miliar per tahun. Realisasi investasi dalam 3 (tiga) tahun terakhir yang terus meningkatkan menunjukkan saat ini iklim investasi hulu mgias di Idnonesia terus membaik.

“Namun, ini harus terus diperbaiki dan ditingkatkan karena saat ini Indonesia masih menempati peringkat 9 dari 14 negara di Asia Pasifik dari segi daya tarik investasi,” tuturnya.

Nanang menambahkan, isu-isu yang masih menghambat upaya-upaya untuk meningkatkan daya tarik investasi di sektor hulu migas perlu segera dicarikan solusi. Peningkatan investasi akan mendorong kegiatan operasional hulu migas yang lebih masif, sehingga kegiatan seperti workover, well service, pemboran eksplorasi dan pemboran eksploitasi akan terus tertambah. Nanang menyampaikan, saat ini target pemboran sumur pengembangan sebanyak 991 sumur dengan prognosa bisa diselesaikan 919 sumur.

Baca Juga :   SKK Migas Beberkan 5 Faktor Pengaruhi Pasar Minyak Dunia Hingga 2023

“Jika investasi terus meningkat, maka suatu saat pemboran sumur pengembangan bisa mencapai di atas 1.000 sumur, sehingga perlu disiapkan juga mengenai perizinan, lahan, lingkungan dan sosial masyarakat lainnya,” pungkas Nanang dalam keterangannya.

Sementara itu, Chairman of Organizing Committee ICIOG 2023, Mohammad Kemal mengatakan, target mencapai produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) di 2030 tidaklah mudah dan butuh cara-cara yang tidak biasa, serta terus mendorong sinergi, kolaborasi dan dukungan dari para pemangku kepentingan.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *