Perajin Tempe Kedungadem Bojonegoro Mengeluh Harga Kedelai Mahal, Mas Teguh Siapkan Solusi

Mas teguh
SERAP ASPIRASI : Caleg DPR RI Dapil IX PDI Perjuangan, Teguh Haryono atau Mas Teguh dicurhati mahalnya harga kedelai oleh perajin tempe Dusun Dolog Desa/Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com – Dusun Dolog Desa/Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur telah menjadi sentra produsen tempe. Warga di sini sudah sejak puluhan tahun memproduksi tempe untuk dijual ke berbagai wilayah.

Namun, mahalnya harga kedelai yang mencapai menjadi bahan baku tempe membuat para perajin mengeluh. Harga kedelai per kilogram mencapai Rp 12.000. Mereka harus memutar otak agar produksi tetap berjalan. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi sedikit ukuran tempe.

“Kalau harganya dinaikkan berat. Konsumen bisa lari,” ujar Sriyani salah satu perajin tempe saat berbincang-bincang dengan calon legislatif (Caleg) DPR RI PDI Perjuangan, Teguh Haryono atau akrab disapa Mas Teguh.

Sriyani mengaku bisa menghabiskan 30 Kg kedelai untuk memproduksi tempe setiap harinya. Artinya ia harus mengeluarkan uang Rp. 360.000 setiap hari untuk membeli kedelai.

“Untuk harga tempe sendiri Rp. 1.000 sampai Rp. 2.000 tergantung ukuran pak, cuman ya harga kedelai ini kalau bisa ya turun,” harap Sriyani.

Mas Teguh yang maju dalam Pemilu Legislatif tahun 2024 dari Dapil 9 Bojonegoro dan Tuban, mengaku sangat tidak asing dengan sentra industri tempe di Dusun Dolog Desa/Kecamatan Kedungadem ini.

Baca Juga :   Indonesia Terapkan BBM B50 Serentak Mulai 1 Juli 2026

“Karena saya lahir dan menghabiskan masa kecil saya di sini,” kata pria ramah kelahiran Desa Nglumber, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro ini.

Mas Teguh sangat paham apa yang dihadapi para perajin tempe Dusun Dolog. Oleh karena itu, jika masyarakat menghendaki dirinya masuk ke Senayan, Mas Teguh berjanji akan menyampaikan keluhan para perajin dan nantinya kedelai impor sebagai bahan baku tempe semakin murah.

“Saya akan sampaikan aspirasi ini. Walaupun sekarang saya belum menjadi anggota Dewan, saya sudah sampaikan ke teman saya salah satu profesor IPB untuk mencari solusi terkait kedelai, pasti ada jalan untuk kedelai ini,” tegas Mas Teguh.

Mas Teguh juga memiliki keinginan agar kedelai lokal bisa dikembangkan lebih baik, sehingga perajin tempe tidak tergantung terus dengan kedelai impor.(adv/red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *