Indonesia Terapkan BBM B50 Serentak Mulai 1 Juli 2026

BBM B50.
BBM B50 akan diterapkan pada semua sektor mulai 1 Juli 2026.

SuaraBanyuurip.com – Pemerintah Indonesia menetapkan implementasikan mandatori biodesel B50 yang akan diberlakukan secara serentak pada seluruh sektor pada 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut untuk mengurangi ketergantungan impor BBM dan memperkuat pondasi kemandirian energi nasional.

Uji coba pemakaian campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar terus dilakukan sejak Desember 2025 lalu. Seperti di sektor otomotif, pertambangan, alat pertanian, perkapalan, genset dan terakhir ini uji di perkeretapian.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan, kebijakan B50 merupakan bagian dari strategi besar pemerintah, dan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.

“Sudah hampir 6 bulan kita melakukan uji pakai (B50) untuk di beberapa peralatan seperti alat berat, kapal, truk, dan sekarang masih bergulir terus (pengujiannya). Tapi sebentar lagi akan final dan sampai dengan hari ini uji cobanya alhamdulillah cukup baik. Dan 1 Juli mulai diterapkan implementasi B50. Inilah kenapa pemerintah dari awal itu mencari energi alternatif,” tutur Bahlil.

Baca Juga :   Dosen ITS Ungkap Penyebab Motor Brebet Setelah Isi Pertalite

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan, uji coba pelaksanaan B50 sudah dilakukan sejak Desember 2025 lalu, dan sektor kereta api dimulai paling akhir.

“Jadi sejak 9 Desember (2025) kita sudah mulai seluruh rangkaian dari uji pelaksanaan di otomotif, di pertambangan, di alat pertanian, uji di perkapalan, uji di genset dan terakhir ini uji di perkeretapian, karena kita harus menunggu lebaran selesai,” ujarnya usai melakukan uji coba pengisian B50 untuk mesin diesel kereta api di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, Senin (27/4/2026) kemarin.

Eniya menuturkan uji coba B50 untuk kereta akan dilakukan dua pengujian. Pertama di Stasiun Lempuyangan untuk uji genset kereta yang akan berangkat ke Jakarta dan kembali ke Yogyakarta selama 2.400 jam. Kedua, untuk lokomotif di Surabaya yang akan dilakukan selama enam bulan.

Untuk hasil pengujian B50 pada kereta api ini diharapkan hasilnya akan baik seperti uji coba B50 di sektor otomotif. Saat ini Dirjen EBTKE masih menunggu laporan detail dari PT. KAI bagaimana kondisi filter dan kapan harus melakukan penggantian filter.

Baca Juga :   Trauma Motor Mogok Usai Isi Pertalite, Warga Bojonegoro Beralih Pertamax

“Jadi perkeretaapian, (engine) kereta kan pelan ya, kategorinya kan low speed engine, kalau otomotif ini speed engine-nya paling tinggi. Nah itu bisa dipastikan pasti akan jalan untuk kereta. Nah nanti kita lihat di perkeretaapian ini filternya seperti apa,” tambah Eniya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengelola Sarana Prasarana PT. KAI (Persero), Heru Kuswanto mengatakan, PT KAI memberi dukungan penuh terhadap uji coba terap B50 di sektor tranportasi, karena tujuan utamanya adalah untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan pemanfaatan energi hijau yang berkelanjutan. Namun tetap harus memperhatikan keselamatan, keamanan, serta evaluasi teknis yang berkelanjutan untuk menjaga keandalan sarana.

“Kami berharap kegiatan ini dapat berjalan dengan lancer dan memberikan manfaat yang optimal, tidak hanya untuk pengembangan teknologi perkeretaapian, tetapi juga sektor ini mendukung transisi energi, menuju sistem tranportasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tandasnya.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait