Tingkatkan Kesejahteraan, Mukidi Bangun Pasar Bonsai di Bojonegoro

Pengunjung sedang memilih tanaman bonsai di lapak milik para komunitas seniman bonsai.
PEMBERDAYAAN : Pengunjung sedang memilih tanaman bonsai di lapak milik para komunitas seniman bonsai.

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Demi meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya tanaman bonsai di Kabupaten Bojonegoro, Mukidi membangun pasar khusus bonsai dengan segala perlengkapannya.

Mukidi adalah nama julukan, penggagas pasar bonsai yang dipusatkan di Gang Sawahan, Kelurahan Sumbang, Kecamatan Bojonegoro ini punya nama asli Totok Sujatmiko.

Namanya pasar, tentu segala produk ada di sini. Berbagai jenis tanaman bonsai tersedia dalam aneka pilihan. Mulai dari ukuran mini hingga bonsai yang lumayan jumbo. Meski tetap jauh lebih kecil dari ukuran sebenarnya. Begitu pun dengan ragam harga yang ditawarkan.

“Kami sepakat jadi satu dengan delapan komunitas pegiat seni bonsai untuk membangun Pasar Bonsai Bojonegoro,” kata Totok Sujatmiko, membuka wawancara dengan Suarabanyuurip.com, Sabtu (20/04/2024).

Dengan terbangunnya pasar, maka semakin banyak bonsai yang bisa menjadi sasaran kesukaan para pengunjung. Sehingga mampu menjadi daya tarik kepada calon pembeli.

“Jujur saja latar belakangnya ekonomi, tetapi sebetulnya potensi Bojonegoro terkait bonsai ini banyak sekali,” ujar seniman bonsai yang merintis sejak tahun 2005 ini.

Baca Juga :   Pemerintah Tambah Alokasi Pupuk Subsidi Menjadi 9,55 Juta Ton
Totok Sujatmiko, penggagas Pasar Bonsai Bojonegoro.
Totok Sujatmiko, penggagas Pasar Bonsai Bojonegoro.

Potensi dangkelan (akar batang pohon) di hutan jati salah satunya sebagai bahan, masih sangat mungkin untuk dioptimumkan. Dengan begitu diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi para peminat seni tanaman asal Negeri Sakur itu. Sejahtera pada akhirnya yang hendak dicapai.

“Kami layani pembeli itu mulai dari bahan, bibit, sampai dengan jadi,” ungkap pria pemilik ‘Bengkel Bonsai Mukidi’ ini.

Soal harga berbeda beda tergantung jenis, ukuran, dan nilai seninya. Mulai dari Rp5.000, Rp10.000, Rp15.000, Rp25.000 sampai seharga Rp25 juta komplit tersaji dalam lapak.

Dari delapan komunitas yang beranggota antara 10 sampai 15 orang setiap komunitas disebutnya baru ada empat lapak. Yakni lapak Bondan, Babon, Bongkotan, dan lapak milik Totok sendiri. Sedang empat lapak lainnya masih dalam proses bergabung.

“Hampir semua yang dibonsaikan ada di sini, mulai dari serut, iprik, jenis-jenis beringin, loa, santigi, hokianti, sakura sacang dan sebagainya,” beber pria yang juga seorang tenaga pendidik itu.

Tanaman bonsai cukup mudah dalam perawatan. Namun begitu, pihaknya siap melayani konsultasi pemeliharaan pasca pembelian. Layaknya dealer kendaraan yang memberikan layanan servis setelah pemasaran.

Baca Juga :   Kreasi Bonsai Mini Diharapkan Jadi Ikon Potensi Bojonegoro

“Seluruh anggota komunitas berkomitmen siap memberikan edukasi tentang bonsai, kapanpun pengunjung kami siap di pasar ini,” tandasnya.

Salah satu pembeli bonsai asal Kecamatan Balen, Sri Apti Handayani mengaku, suka dengan bonsai. Sejak lama ia menggemari berbagai jenis tanaman tersebut. Maka dengan adanya pasar bonsai, lebih banyak tanaman yang menjadi alternatif.

“Tentu senang (adanya pasar), murah-murah juga harganya,” ucapnya sambil memilih-milih bonsai jenis serut.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Tingkatkan terus demi peningkatan kemakmuran kesejahteraan di Bojonegoro khususnya semangat n sukses saodaraku good luck