SuaraBanyuurip.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Kolaboratif Universitas Bojonegoro Kelompok 04 mengadakan sosialisasi Mengenai Lubang Resapan Biopori (LRB) untuk pengelolaan sampah organik dan membantu resapan air di Balai Desa Jelu Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro, Kamis (24/7/2024).
Biopori merupakan lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktivitas organisme di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.
Pemasalahan kekeringan yang terjadi di Desa Jelu selalu terjadi setiap musim kemarau. Untuk mengatasi permasalahan tersebut mahasiswa KKN kelompok 04 Unigoro, memberikan pemahaman cara pembuatan lubang biopori untuk pengolahan sampah organik. Sosialisasi dilaksanakan pada saat rapat pleno PKK yang di hadiri Tim penggerak PKK dan Kader Posyandu guna
“Selain itu biopori juga bisa menambah sumber air tanah sehingga tidak terjadi kekeringan pada sumur,” kata mahasiswa KKN – TK 04 Unigoro, Santi Amanda Tiara Putri.
Santi menjelaskan, peningkatan daya resapan air pada tanah dibuat dengan cara membuat lubang pada tanah dan menimbun dengan sampah organik. Karena sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan menghasilakan pupuk organik (kompos). Sampah organik yang ditimbun pada lubang bopori akan menghidupi fauna pada tanah, yang selanjutnya akan mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah.
“Manfaat lainnya Lubang Resapan Biopori adalah untuk mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh adanya genangan air, seperti demam berdarah, malaria, dan kaki gajah,” tuturnya.

Sosialisasi pembuatan lubang resapan biopori mendapat sambutan positif dari Ibu-ibu Tim Penggerak PKK dan Kader Posyandu Desa Jelu. Mereka sangat bersemangat dalam mengikuti program dari mahasiswa KKN-TK 04 Unigoro.
“Ketika Kami menawarkan untuk pemasangan Lubang Resapan Biopori secara gratis mereka berminat untuk melakukan pemasangan LRB di sekitar rumah mereka dengan jumlah 45 lokasi,” jelas Santi.
Mahasiwa KKN berharap dengan menyelenggarakan program ini dapat meningkatkan pengetahuan Ibu-ibu PKK serta masyarakat sekitar mengenai pentingnya pembuatan lubang resapan biopori untuk mengatasi pengelolaan sampah organik serta menambah sumber air tanah sehingga tidak terjadi kekeringan pada sumur di wilayah mereka.
“Harapan kami kedepannya semakin banyak warga di sini yang menerapkannya,” pungkas Santi.(red)





