SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Lembaga Survei Poltracking Indonesia merilis elektabilitas pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati (wabup) nomor urut 02 Setyo Wahono-Nurul Azizah unggul di angka 78,6 persen jauh di atas paslon rival, Teguh Haryono — Farida Hidayati yang berada di angka 12,2 persen.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanya Yuda AR mengatakan, Poltracking Indonesia menyelenggarakan survei di Kabupaten Bojonegoro pada awal Oktober 2024, dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling. Pengambilan data lapangan dilakukan pada tanggal 4 – 10 Oktober 2024.
Sampel pada survei ini adalah 1.600 responden dengan margin of error +/-2.5% pada tingkat kepercayaan 95%. Klaster survei menjangkau 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro secara proporsional berdasarkan data jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2024.
“Sedangkan stratifikasi survei ini adalah proporsi jenis kelamin pemilih,” kata Hanta Yuda dalam acara Rilis Temuan Survei Tatap Muka Bojonegoro Poltracking Indonesia, bertajuk “Siapa Unggul di Pilkada Bojonegoro 2024”, Sabtu (19/10/2024) yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube dari Jakarta.
Pria yang menjadi direktur eksekutif sejak 2012 itu menjelaskan, bahwa pengumpulan data dilakukan oleh pewawancara terlatih melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan teknologi aplikasi terhadap responden yang telah terpilih secara acak.

Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden untuk setiap satu desa/kelurahan terpilih. Maksud dan tujuan dari survei ini adalah untuk mengukur kekuatan elektoral masing-masing kandidat pasangan Calon Bupati – Wakil Bupati Bojonegoro.
Temuan pokok dan analisis hasil survei ini dijelaskan dalam delapan hal. Pertama, yaitu publik mengatakan bahwa dekat dengan rakyat/sering turun ke masyarakat (23.6%) menjadi alasan utama dalam memilih Calon Bupati – Wakil Bupati Bojonegoro, diikuti berpengalaman di Pemerintahan (20.5%), dan jujur/bersih dari KKN (10.0%).
Lalu yang ke dua, pada simulasi tunggal Calon Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono memperoleh angka elektabilitas (70.3%), sedangkan Teguh Haryono (12.3%). Sementara pada simulasi tunggal Calon Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah memperoleh angka elektabilitas (65.1%), sedangkan Farida Hidayati (16.3%).
“Ke tiga, pada simulasi head to head Calon Bupati – Wakil Bupati Bojonegoro dengan menggunakan surat suara, pasangan Setyo Wahono – Nurul Azizah memperoleh angka elektabilitas (78.6%), sedangkan Teguh Haryono – Farida Hidayati (12.2%),” ujar alumnus Unversitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.
Temuan pokok ke empat, peta sebaran pemilih berdasarkan kelompok umur, pemilih pemilih Generasi Z (6.3%), Milenial Muda (10.0%), Milenial Matang (20.9%), Generasi X (33.9%), Baby Boomers (26.9%), dan Silent Gen (2.0%) cenderung kepada Setyo Wahono-Nurul Azizah.
Selanjutnya temua yang ke lima. Peta sebaran ini menggambarkan kekuatan Elektabilitas Pasangan Calon Bupati-Wakil Bupati Bojonegoro berdasarkan kedekatan dengan ormas Islam. Dari (87.0%) publik yang merasa dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU), sebaran pilihannya kepada Teguh Haryono – Farida Hidayati (11.5%) sedangkan Setyo Wahono – Nurul Azizah (79.5%).
Peta sebaran berdasarkan pemilih partai politik sebagai temuan ke enam, menunjukkan pemilih dari partai politik Pemilih PKB (19.9%), Partai Gerindra (13.5%), Partai Golkar (8.0%), Partai Demokrat (7.8%), PDI Perjuangan (7.3%), PKS (4.8%), PAN (3.5%), Partai NasDem (2.5%), dan PPP (2.5%) cenderung kepada Setyo Wahono-Nurul Azizah.
Ke tujuh, peta sebaran berdasarkan pilihan pada Pilkada Bojonegoro 2018. Pemilih Soehadi Moeljono – Mitro’atin (23.2%), Mahfudhoh – Kuswiyanto (13.1%), Anna Muawanah – Budi Irawanto (31.9%) dan Basuki – Pudji Dewanto (22.1%) cenderung kepada Setyo Wahono-Nurul Azizah.
Terakhir pada temuan pokok ke delapan. Jujur dan bersih (27.2%) merupakan sifat/kriteria Calon Bupati paling diharapkan untuk memimpin Bojonegoro dalam lima tahun ke depan, diikuti merakyat dan sederhana (25.7%), serta cerdas dan berwawasan luas (12.5%).
“Temuan ini merupakan potret terbaru dari survei yang dilakukan pada awal Oktober 2024. Berbagai kemungkinan masih berpotensi terjadi, tergantung isu dan konstelasi politik jelang hari pemilihan pada 27 November 2024 nanti,” pungkas Hanta Yuda AR.(fin)





